JAKARTA, Sentralmedia.id – Kelangkaan air akibat kemarau mulai mengancam pertanian dan peternakan ikan di sejumlah wilayah Indonesia. Karena itu, Profesor Sutan Nasomal berharap Presiden RI Prabowo Subianto segera mengambil langkah untuk mengantisipasi dampak kekeringan yang dapat mengganggu kebutuhan air masyarakat serta sektor pertanian.
Menurut Prof. Sutan Nasomal, kelangkaan air akibat kemarau membutuhkan perhatian serius pemerintah. Ia mendorong pemerintah memperkuat irigasi, memperbaiki bendungan dan danau, serta melakukan normalisasi sungai agar masyarakat memiliki cadangan air ketika kemarau panjang berlangsung.
“Di mana-mana sebagian belahan bumi Indonesia pertanian terancam gagal panen akibat perairan yang tersendat, dangkal, bahkan kering kerontang. Selain itu, perlu subsidi air ke daerah-daerah yang langka air oleh pemerintah kabupaten/kota yang daerahnya terkena dampak,” ujar Prof. Sutan Nasomal saat menjawab pertanyaan sejumlah pemimpin redaksi media cetak dan online dalam dan luar negeri melalui telepon selulernya, Kamis (13/8/2026).
Prof. Sutan Nasomal, pakar hukum dan ekonom, menyampaikan pernyataan tersebut dari kantornya, Markas Pusat Partai Oposisi Merdeka, di kawasan Cijantung, Jakarta.
Kemarau Mengancam Pertanian dan Peternakan Ikan
Prof. Sutan Nasomal menilai kemarau yang berlangsung sekitar tiga bulan sudah menimbulkan dampak luar biasa. Kondisi tersebut membuat lahan pertanian mengering dan menyebabkan sejumlah peternak ikan mengalami kerugian.

Ia meminta pemerintah memperhatikan nasib petani dan peternak ikan air tawar yang menghadapi dampak kekeringan. Menurutnya, masyarakat berisiko kehilangan modal karena mereka tidak dapat merawat tanaman maupun ikan secara optimal.
“Modal mereka tidak akan kembali karena gagal dalam perawatan dan tidak mungkin bisa dipanen,” ujarnya.
Ia juga menyebut sekitar 47 persen wilayah Indonesia mengalami kekeringan dalam pertanian dan peternakan ikan selama puluhan tahun. Karena itu, menurutnya, pemerintah perlu menyiapkan sistem irigasi yang mampu menyuplai kebutuhan air bagi masyarakat.
Bendungan dan Danau Harus Berfungsi Menyediakan Air
Prof. Sutan Nasomal menyoroti anggaran pemerintah yang mencapai ratusan triliun rupiah untuk pembangunan bendungan dan danau. Menurut dia, pemerintah seharusnya memastikan pembangunan tersebut memberikan manfaat nyata dengan menyediakan cadangan air bagi masyarakat, khususnya petani dan peternak ikan.
Ia menyebut masyarakat pedesaan masih mengeluhkan kelangkaan air ketika kemarau tiba.
“Jangan dibangun bendungan dan danau yang asal jadi dan tidak ada airnya untuk kebutuhan petani dan peternak ikan selama musim kemarau,” katanya.
Menurut Prof. Sutan Nasomal, masyarakat pedesaan tetap mendukung program ketahanan pangan yang dicanangkan Presiden RI Prabowo Subianto. Masyarakat juga ingin membuktikan bahwa sektor pertanian dan peternakan ikan dapat mendukung swasembada pangan apabila kebutuhan air tercukupi.
Ia menilai persoalan kelangkaan air yang dirasakan masyarakat telah berlangsung selama puluhan tahun. Karena itu, ia meyakini pemerintah bersama Presiden Prabowo Subianto sudah memiliki berbagai solusi yang dapat diterapkan.
Normalisasi Sungai hingga Pembuatan Danau Baru
Berdasarkan laporan masyarakat yang diterimanya, Prof. Sutan Nasomal menyebut gagal panen dan kesulitan mendapatkan sumber air sebagai salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian dalam pelaksanaan program ketahanan pangan.
Ia mengusulkan pemerintah melakukan normalisasi dan pengerukan sungai dalam jumlah besar di berbagai wilayah Indonesia. Wilayah yang disebut antara lain Sumatera, Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan NTB dan wilayah lainnya.

Selain itu, ia mendorong pemerintah membuat ribuan danau baru untuk menyerap air hujan di wilayah yang sering mengalami kekeringan berkepanjangan.
Menurutnya, pemerintah juga perlu memanfaatkan sungai bawah tanah untuk menambah stok air bersih. Cadangan tersebut diharapkan dapat menopang kebutuhan masyarakat ketika musim kemarau panjang.
“Libatkan kementerian dan TNI Polri agar kekeringan bisa diatasi,” ujarnya.
Bendungan Perlu Direnovasi, Hutan Rusak Harus Ditanami Kembali
Selain pembangunan bendungan baru, Prof. Sutan Nasomal juga menilai pemerintah perlu merenovasi bendungan yang belum optimal agar fasilitas tersebut mampu menjalankan fungsi penyediaan air.
Ia juga menyoroti kondisi hutan yang telah mengalami kerusakan. Menurutnya, pemerintah perlu menanam kembali pohon di kawasan hutan yang rusak agar ketersediaan air di wilayah pegunungan tetap terjaga.
Ia menilai pemerintah perlu menjalankan langkah tersebut secara serius karena kondisi cuaca semakin ekstrem akibat El Nino.
Prof. Sutan Nasomal juga mengingatkan dampak kekeringan terhadap harga bahan pangan. Menurut dia, kelangkaan barang di sejumlah pasar kembali mendorong harga sayur-mayur menjadi mahal.
Kiriman hasil pertanian dari pedesaan terhenti ketika petani mengalami gagal panen. Kondisi tersebut membuat petani tidak memperoleh hasil dan menghadapi kerugian yang menurutnya mencapai ratusan juta rupiah akibat kemarau panjang.
Teknologi Air Perlu Dikembangkan
Prof. Sutan Nasomal mendorong pemerintah mengembangkan teknologi yang dapat membantu menyediakan air ketika musim kemarau. Menurutnya, pemerintah juga perlu menjadikan teknologi tersebut sebagai bagian dari edukasi kepada masyarakat selama ancaman El Nino berlangsung.

Ia berharap pengembang dapat mengembangkan teknologi untuk menyerap panas dan menghasilkan air sehingga teknologi tersebut dapat membantu memenuhi kebutuhan air masyarakat.
Pada akhirnya, Prof. Sutan Nasomal berharap pemerintah memperbaiki seluruh danau dan bendungan agar fasilitas tersebut mampu menampung air yang dibutuhkan sektor pertanian dan perikanan selama musim kemarau.
Ia juga berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk mengantisipasi dampak kekeringan agar masyarakat, petani, dan peternak ikan tetap dapat menjalankan aktivitasnya serta mendukung program ketahanan pangan.
Narasumber: Prof. Dr. Sutan Nasomal, SH., MH., Pakar Hukum Internasional dan Ekonom; Presiden Partai Oposisi Merdeka Jenderal Kompii; Pendiri/Pengasuh Ponpes ASS SAQWA PLUS; Ketua Umum Perkumpulan Advokat Muda Indonesia (PAMID); Ketua Umum YPLBH Profesor Sutan Nasomal, SH., MH.; serta Rektor Univ STIA STIH Pronass.
Redaksi/Editor : Sentralmedia.id





