JAKARTA, Senin(10/8/2026) Sentralmedia.Id – Indonesia kembali menghadapi ironi dalam persaingan sepak bola Asia Tenggara. Ketika Singapura, Thailand, Malaysia, dan Vietnam bersiap membawa nama negara masing-masing ke lapangan, Indonesia justru berada di luar persaingan dan hanya dapat menyaksikan pertarungan tersebut dari kejauhan.
Kondisi itu mendapat sorotan dari Prof. Sutan Nasomal, S.H., M.H., komentator bidang hukum, ekonomi, budaya, dan olahraga. Ia berharap Presiden Republik Indonesia dapat mendorong para tokoh sepak bola serta olahraga nasional untuk menyusun langkah jangka panjang.
Menurut Sutan Nasomal, Indonesia membutuhkan arah yang jelas agar tidak terus menjadi penonton dalam percaturan sepak bola kawasan maupun dunia.
Ia menilai kondisi tersebut harus menjadi bahan evaluasi bersama. Dalam olahraga, kekalahan maupun kegagalan dalam sebuah kompetisi merupakan hal yang biasa.
Namun, menurutnya, persoalan muncul ketika kegagalan tidak mendorong pembenahan yang serius, terukur, dan berkelanjutan.
Sutan Nasomal Dorong Presiden Bangun Roadmap Sepak Bola
Sutan Nasomal berharap Presiden Republik Indonesia dapat merangkul tokoh-tokoh olahraga untuk membangun masa depan sepak bola nasional.
Ia menilai pemerintah bersama insan sepak bola perlu melihat persoalan secara lebih luas. Sebab, membangun kekuatan sepak bola tidak cukup hanya mengandalkan pergantian pemain, pelatih, atau target jangka pendek.
“Dunia persepakbolaan selama ini Indonesia hanya jadi penonton. Kita harapkan Presiden merangkul tokoh olahraga untuk ke depannya Indonesia bisa mengambil bagian dalam dunia persepakbolaan dunia,” ujar Sutan Nasomal saat menjawab pertanyaan sejumlah pimpinan redaksi media cetak dan online dalam dan luar negeri melalui sambungan telepon seluler dari Jakarta, Minggu (9/8/2026).
Menurutnya, Indonesia membutuhkan visi besar untuk membangun sepak bola secara berkelanjutan. Visi tersebut mencakup pembinaan usia dini, kompetisi yang sehat, peningkatan kualitas pelatih, pembangunan infrastruktur, tata kelola organisasi, hingga keberlanjutan prestasi tim nasional.
Dengan demikian, pembenahan tidak hanya berorientasi pada hasil satu pertandingan. Sebaliknya, Indonesia perlu membangun sistem yang mampu melahirkan pemain berkualitas dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Empat Negara Asia Tenggara Bersiap Bertanding
Sorotan tersebut muncul di tengah jadwal pertandingan empat negara Asia Tenggara yang akan berlangsung pada 15 hingga 19 Agustus 2026.
Rangkaian pertandingan akan mempertemukan Singapura dengan Thailand pada 15 Agustus dalam leg pertama. Setelah itu, Malaysia akan menghadapi Vietnam pada 16 Agustus.
Persaingan kemudian berlanjut melalui leg kedua. Thailand dijadwalkan menghadapi Singapura pada 18 Agustus.
Selanjutnya, Vietnam akan bertemu Malaysia pada 19 Agustus.
Empat negara tersebut akan menjalani dua leg untuk menentukan siapa yang mampu melangkah lebih jauh. Masing-masing negara membawa ambisi, strategi, serta kebanggaan nasional ke dalam persaingan.
Sementara itu, Indonesia kembali berada di luar arena persaingan tersebut.
Kondisi itu menjadi perhatian karena sepak bola memiliki basis penggemar yang kuat di Indonesia. Karena itu, posisi Indonesia yang hanya menjadi penonton menjadi pertanyaan yang perlu dijawab melalui evaluasi dan pembenahan sistem.
Jangan Hanya Salahkan Pemain dan Pelatih
Bagi Prof. Sutan Nasomal, kondisi tersebut tidak seharusnya hanya menjadi alasan untuk menyalahkan pemain, pelatih, atau organisasi sepak bola.
Sebaliknya, situasi itu perlu menjadi momentum untuk melihat persoalan secara lebih mendalam.
Ia mempertanyakan mengapa negara dengan jumlah penduduk besar dan basis penggemar sepak bola yang kuat belum mampu membangun kekuatan sepak bola yang konsisten di tingkat Asia maupun dunia.
“Memang sangat disayangkan. Tahun 2026 ini Indonesia dalam persaingan sepak bola kawasan Asia Tenggara hanya menjadi penonton ketika empat negara, Singapura, Thailand, Malaysia dan Vietnam, bertarung membawa nama bangsanya,” kata pakar hukum internasional tersebut.
Menurut Sutan Nasomal, pertanyaan tersebut tidak cukup dijawab dengan mengganti pemain atau pelatih ketika hasil pertandingan tidak sesuai harapan.
Indonesia, kata dia, membutuhkan evaluasi yang lebih menyeluruh. Dengan cara itu, setiap kegagalan dapat menjadi bahan untuk memperbaiki sistem dan bukan sekadar menjadi perdebatan setelah pertandingan.
Indonesia Membutuhkan Cetak Biru Sepak Bola
Sutan Nasomal berharap pemerintah, insan sepak bola, akademisi, mantan pemain, pelatih, pengurus kompetisi, serta berbagai pemangku kepentingan dapat duduk bersama.
Menurutnya, mereka perlu menyusun cetak biru sepak bola nasional yang realistis dan berkelanjutan.
Cetak biru tersebut harus memiliki arah yang jelas. Selain itu, program yang telah disusun juga membutuhkan konsistensi agar pembinaan sepak bola tidak berhenti ketika terjadi pergantian kepemimpinan atau perubahan kebijakan.
Ia menilai target Indonesia tidak seharusnya berhenti pada keinginan memenangkan satu pertandingan atau satu turnamen.
Target yang lebih penting, menurutnya, adalah membangun sistem yang mampu melahirkan generasi pemain berkualitas secara berkesinambungan.
Dengan sistem yang kuat, prestasi dapat menjadi hasil dari proses pembinaan yang berjalan secara konsisten.
Pembinaan Jangka Panjang Jadi Kunci
Kekuatan sepak bola tidak lahir secara instan. Karena itu, Indonesia membutuhkan pembinaan jangka panjang yang berjalan secara konsisten.
Selain pembinaan, kompetisi berkualitas juga menjadi bagian penting dalam membangun kemampuan pemain. Kompetisi memberikan ruang bagi pemain untuk berkembang dan mendapatkan pengalaman.
Di sisi lain, kualitas pelatih juga perlu menjadi perhatian. Begitu pula dengan manajemen yang profesional serta tata kelola organisasi sepak bola.
Menurut Sutan Nasomal, seluruh unsur tersebut harus berjalan secara beriringan. Jika salah satu bagian tidak berjalan dengan baik, pembangunan sepak bola nasional dapat kembali menghadapi persoalan yang sama.
Karena itu, evaluasi perlu dilakukan secara terbuka dan serius.
Jangan Terus Puas Menjadi Penonton
Indonesia, menurut Sutan Nasomal, tidak boleh terus-menerus puas hanya menjadi penonton ketika negara-negara tetangga bertanding.
Sorotan terhadap kondisi sepak bola nasional saat ini juga tidak harus dipandang semata-mata sebagai kritik.
Sebaliknya, situasi tersebut dapat menjadi alarm bagi seluruh pemangku kepentingan sepak bola nasional untuk berani melakukan pembenahan.
Jika negara-negara tetangga terus berlari membangun kekuatan sepak bolanya, Indonesia tidak boleh hanya berdiri di pinggir lapangan sambil menyaksikan.
Indonesia perlu menentukan arah dan membangun sistem yang mampu menopang prestasi secara berkelanjutan.
Pertanyaan yang muncul, menurut Sutan Nasomal, bukan hanya kapan Indonesia meraih kemenangan.
Lebih dari itu, pertanyaan yang harus dijawab adalah kapan Indonesia benar-benar membangun sistem sepak bola yang membuat prestasi menjadi sesuatu yang direncanakan, bukan sekadar diharapkan.
Roadmap sepak bola nasional, dengan demikian, menjadi gagasan penting yang perlu dibahas secara serius. Pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan sepak bola diharapkan dapat menyatukan langkah untuk membangun sistem yang lebih terarah.
Bagi Indonesia, persaingan sepak bola tidak semestinya hanya menjadi tontonan ketika negara-negara lain bertanding. Indonesia juga harus memiliki keberanian untuk membangun kekuatan sendiri agar dapat mengambil bagian dalam persaingan sepak bola kawasan dan dunia.
Redaksi/Editor : Sentral Media





