SURABAYA, Sabtu(22/8/ 2026) Sentral Media – W.R. Soepratman, pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya, kembali menjadi sorotan pada momentum HUT RI ke-81.
Peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026 juga bertepatan dengan 88 tahun wafatnya W.R. Soepratman.
W.R. Soepratman wafat pada 17 Agustus 1938. Tujuh tahun kemudian, pada 17 Agustus 1945, Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.
Dua peristiwa tersebut memiliki ironi sejarah yang kuat. W.R. Soepratman tidak sempat melihat Merah Putih berkibar sebagai bendera negara merdeka.
Ia juga tidak sempat menyaksikan Indonesia Raya berkumandang sebagai lagu kebangsaan Republik Indonesia.
Namun, karya W.R. Soepratman terus hidup. Lagu Indonesia Raya bahkan menjadi salah satu simbol penting dalam perjalanan bangsa.
W.R. Soepratman dan Perjuangan Kesadaran Kebangsaan
W.R. Soepratman memperkenalkan Indonesia Raya kepada publik dalam Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928.
Saat itu, semangat persatuan tumbuh kuat di kalangan pemuda Indonesia. Indonesia Raya kemudian ikut menguatkan kesadaran kebangsaan.
W.R. Soepratman tidak sekadar menciptakan sebuah lagu. Melalui karyanya, ia menyuarakan cita-cita persatuan, kebangsaan, dan kemerdekaan.
Karena itu, masyarakat Indonesia tidak semestinya hanya mendengar Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan.
Setiap kali lagu tersebut berkumandang, masyarakat juga mengingat perjalanan perjuangan bangsa.
Di dalamnya terdapat semangat persatuan dan pengorbanan para pendahulu Indonesia.
Hari-Hari Terakhir W.R. Soepratman
Menjelang akhir kehidupannya, kondisi kesehatan W.R. Soepratman semakin memburuk.
Pemerintah Kota Surabaya mencatat bahwa aparat kolonial menangkap W.R. Soepratman pada 7 Agustus 1938. Penangkapan itu terjadi setelah ia memimpin penyiaran lagu Matahari Terbit.
Aparat kemudian menahan W.R. Soepratman di Penjara Kalisosok.
Dalam kondisi kesehatan yang semakin lemah, W.R. Soepratman kembali ke rumah kakaknya di Jalan Mangga No. 21, Surabaya.
Di rumah tersebut, ia menjalani hari-hari terakhir kehidupannya.
Pada 17 Agustus 1938, W.R. Soepratman mengembuskan napas terakhir.
Tujuh tahun kemudian, tepat pada tanggal yang sama, Soekarno dan Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
Indonesia kemudian menggunakan Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan.
Namun, W.R. Soepratman tidak sempat menyaksikan momentum tersebut.
Sutan Nasomal Ingatkan Pentingnya Sejarah
Pakar Hukum Internasional dan ekonom Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal, S.H., M.H., menilai HUT ke-81 Kemerdekaan RI harus menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran sejarah dan kebangsaan.
Menurut Sutan Nasomal, masyarakat tidak boleh memandang kemerdekaan hanya sebagai peristiwa pada 17 Agustus 1945.
Bangsa Indonesia melalui proses panjang sebelum mencapai kemerdekaan. Banyak tokoh ikut menanamkan semangat persatuan dan kebangsaan.
“Kemerdekaan harus dipahami dengan kesadaran sejarah. Jangan sampai bangsa Indonesia menikmati kemerdekaan, tetapi lupa kepada orang-orang yang sebelum Republik ini berdiri telah menanamkan semangat persatuan dan kebangsaan. W.R. Soepratman adalah salah satu tokoh yang meninggalkan warisan sangat besar melalui Indonesia Raya.”
Sutan Nasomal juga menilai Indonesia Raya memiliki makna lebih besar daripada sekadar sebuah lagu.
“Indonesia Raya adalah simbol kebangsaan. Ketika lagu itu dikumandangkan, sesungguhnya kita sedang mengingat perjalanan bangsa. Karena itu, penciptanya tidak boleh hilang dari ingatan generasi Indonesia.”
W.R. Soepratman Tidak Sempat Menikmati Kemerdekaan
Menurut Sutan Nasomal, perjalanan hidup W.R. Soepratman menyimpan pesan moral yang kuat.
“Beliau wafat pada 17 Agustus 1938, sedangkan Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945. Artinya, W.R. Soepratman tidak sempat menikmati kemerdekaan yang ikut diperjuangkannya melalui karya. Tetapi warisannya justru menjadi bagian dari identitas negara yang lahir setelah beliau wafat.”
Sutan Nasomal menegaskan bahwa bangsa besar harus menghormati para pendahulunya.
“Jangan hanya merayakan tanggal kemerdekaan. Kita harus menghormati nilai perjuangan yang melahirkan kemerdekaan. Kalau sejarah dilupakan, generasi berikutnya akan kehilangan arah tentang dari mana bangsa ini berasal dan untuk apa kemerdekaan diperjuangkan.”
Jangan Hafal Indonesia Raya, Lupa Penciptanya
Sutan Nasomal mengingatkan masyarakat agar tidak berhenti pada kegiatan menyanyikan Indonesia Raya saat upacara.
Menurutnya, generasi muda juga perlu mengenal pencipta lagu tersebut serta memahami sejarah perjuangan di baliknya.
“Jangan sampai kita hafal lirik Indonesia Raya, berdiri tegak ketika menyanyikannya, tetapi lupa siapa penciptanya. Di balik lagu kebangsaan itu ada seorang W.R. Soepratman yang memberikan karya terbaiknya untuk bangsa.”
Sutan Nasomal menilai kisah W.R. Soepratman memiliki pesan kuat bagi generasi muda.
“W.R. Soepratman tidak sempat menikmati kemerdekaan. Tetapi hari ini, setiap 17 Agustus, bangsa Indonesia menyanyikan lagu ciptaannya. Ini menunjukkan bahwa sebuah karya perjuangan dapat hidup jauh melampaui usia penciptanya.”
Ia juga meminta masyarakat tidak hanya mengenang W.R. Soepratman pada bulan Agustus.
“Jangan mengenang W.R. Soepratman hanya ketika bulan kemerdekaan. Sejarah harus diajarkan sepanjang waktu. Generasi muda harus mengetahui bahwa kemerdekaan Indonesia memiliki perjalanan panjang dan penuh pengorbanan.”
Menjaga Nilai Indonesia Raya
Menurut Sutan Nasomal, masyarakat perlu mewujudkan penghormatan kepada W.R. Soepratman melalui tindakan nyata.
Ia meminta generasi sekarang menjaga nilai persatuan, hukum, keadilan, dan kepentingan bangsa.
“Indonesia Raya berbicara tentang Indonesia. Maka tugas generasi sekarang adalah menjaga Indonesia. Persatuan harus dirawat, hukum harus dihormati, keadilan harus diperjuangkan, dan kepentingan bangsa harus ditempatkan di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.”
Pesan tersebut mengingatkan masyarakat bahwa Indonesia Raya bukan hanya simbol sejarah.
Lagu itu juga membawa pesan tentang tanggung jawab generasi penerus terhadap Indonesia.
Dua Peristiwa Penting pada 17 Agustus
Sejarah mencatat dua peristiwa penting pada tanggal yang sama.
17 Agustus 1938: W.R. Soepratman wafat.
17 Agustus 1945: Indonesia memproklamasikan kemerdekaan.
Jarak kedua peristiwa tersebut tepat tujuh tahun.
W.R. Soepratman tidak sempat melihat Indonesia merdeka. Ia juga tidak menyaksikan Merah Putih berkibar sebagai bendera negara.
Ia tidak mendengar rakyat Indonesia menyanyikan Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan dalam negara yang berdaulat.
Namun, karya W.R. Soepratman terus hidup.
Setiap kali Indonesia Raya berkumandang, masyarakat kembali mengingat namanya.
Setiap kali Merah Putih berkibar, masyarakat juga mengingat perjalanan panjang bangsa menuju kemerdekaan.
Jangan Lupakan Pencipta Indonesia Raya
HUT RI ke-81 menjadi momentum untuk melihat kembali sejarah perjuangan bangsa.
Peringatan kemerdekaan juga mengajak masyarakat menghargai para tokoh yang ikut menanamkan semangat kebangsaan.
Karena itu, ketika Indonesia Raya berkumandang pada 17 Agustus 2026, masyarakat tidak hanya menyanyikan liriknya.
Masyarakat juga perlu mengingat sosok di balik karya tersebut.
Wage Rudolf Soepratman.
Ia wafat pada 17 Agustus 1938, tujuh tahun sebelum Indonesia merdeka.
W.R. Soepratman pergi sebelum melihat Indonesia berdiri sebagai negara merdeka. Namun, karya yang ia tinggalkan terus hidup bersama bangsa Indonesia.
Selama Indonesia Raya berkumandang, nama W.R. Soepratman semestinya tetap hidup dalam ingatan generasi penerus.
Sumber: Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal, S.H., M.H., Pakar Hukum Internasional, Ekonom, Presiden Partai Oposisi Merdeka Jenderal Kompii, Ketua Umum Perkumpulan Advokat Muda Indonesia (PAMID), Ketua Umum YPLBH Prof. Dr. Sutan Nasomal, serta Rektor Univ STIA STIH Pronass.
Editor : Sentralmedia.id





