Mbay, SentralMedia.id — Pernyataan Wakil Bupati Nagekeo, Gonzalo G.M. Sada, mengenai rencana revitalisasi Bandara Eks Jepang di Tonggurambang menuju pembangunan Bandara Surabaya II Mbay membuka ruang diskursus penting tentang masa depan konektivitas udara Kabupaten Nagekeo. Langkah ini bukan sekadar proyek infrastruktur, tetapi agenda jangka panjang yang bernilai strategis ekonomis, politis, dan sosial-kultural bagi Nagekeo dan kawasan timur Nusa Tenggara.
Dalam konteks pembangunan daerah, transportasi udara merupakan enabling infrastructure yang mempercepat pertumbuhan lintas sektor. Konektivitas yang baik akan menggerakkan roda ekonomi mulai dari perdagangan, distribusi logistik, akses kesehatan, hingga pendidikan dan pariwisata. Karena itu, pernyataan Wabup Gonzalo dapat dibaca sebagai arah kebijakan jangka panjang yang menempatkan bandara sebagai tulang punggung mobilitas regional.
Wabup Gonzalo menegaskan bahwa pemerintah daerah terlebih dahulu akan menyiapkan kebutuhan dasar sebelum mengajukan pembukaan rute perdana Kupang–Mbay. Langkah awal tersebut meliputi pemadatan runway dan pembangunan akses jalan menuju terminal bandara. Pendekatan ini menunjukkan pemahaman pemerintah terhadap tahapan teknis pembangunan kebandaraan, di mana kesiapan infrastruktur dasar dan dokumen legal harus diproses secara paralel. “Itu berarti syarat dan dokumen perizinan paralel dipersiapkan,” tegasnya.
Dari sudut pandang perencanaan wilayah, revitalisasi bandara eks Jepang merupakan pilihan yang realistis dan adaptif terhadap kondisi fiskal dan kesiapan teknis daerah. Alih-alih membangun bandara baru dari titik nol, pemerintah memanfaatkan aset eksisting sebagai pijakan awal menuju pengembangan jangka panjang. Strategi incremental development ini mampu mengurangi risiko anggaran sekaligus mempercepat manfaat langsung bagi masyarakat.
Jika rute Kupang–Mbay terealisasi, Nagekeo akan memasuki babak baru dalam struktur ruang regional Pulau Flores. Akses udara akan memangkas jarak logistik dan psikologis antara Mbay dan pusat-pusat ekonomi, membuka peluang investasi, memperlancar mobilitas tenaga kerja, dan meningkatkan pelayanan publik. Dalam perspektif ini, revitalisasi bandara tidak lagi sekadar persoalan teknis, melainkan transformasi struktural yang mengubah pola interaksi sosial dan ekonomi masyarakat Nagekeo.
Meski demikian, keberhasilan rencana besar ini tidak cukup bertumpu pada pembangunan fisik. Aspek nonfisik seperti penyusunan masterplan, kajian lingkungan (AMDAL), jaminan keselamatan penerbangan, integrasi transportasi darat, dan konsistensi kebijakan harus berjalan seiring. Tanpa koordinasi lintas sektor yang kuat, bandara berpotensi menjadi fasilitas yang megah tetapi kurang optimal secara operasional. Karena itu, komitmen politik dan keberlanjutan anggaran menjadi faktor penentu.
Revitalisasi Bandara Eks Jepang Tonggurambang dapat dilihat sebagai langkah awal menuju transformasi sistematis. Jika dijalankan dengan perencanaan matang, proyek ini berpotensi menjadi salah satu lompatan terbesar dalam sejarah transportasi udara Nagekeo.
Pada akhirnya, pembangunan bandara bukan hanya proyek fisik, melainkan investasi peradaban. Kelak, ketika pesawat pertama mendarat membuka rute Kupang–Mbay, momen itu akan dicatat sebagai buah dari keberanian mengambil langkah awal langkah yang hari ini baru mulai diwacanakan.

