Washington, D.C, Sentralmedia.id, – Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, melakukan perombakan besar dalam jajaran pimpinan militer dengan mencopot, memaksa pensiun, serta menghambat kenaikan pangkat lebih dari selusin perwira tinggi di berbagai matra angkatan bersenjata. Kebijakan ini memicu perhatian luas karena terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, termasuk konflik yang sedang berlangsung dengan Iran.
Sejumlah pejabat Amerika Serikat yang dikutip oleh media setempat menyatakan bahwa langkah tersebut berdampak pada perwira-perwira berpengalaman yang telah bertugas selama puluhan tahun. Mereka memiliki rekam jejak dalam berbagai operasi militer besar, seperti Perang Teluk, operasi di Irak, serta misi di Afghanistan. Perubahan mendadak ini dinilai tidak lazim karena menyasar figur-figur kunci dalam struktur komando militer.
Beberapa sumber internal mengungkapkan bahwa keputusan tersebut diduga tidak sepenuhnya didasarkan pada pertimbangan profesional. Terdapat dugaan bahwa ras, jenis kelamin, serta anggapan kedekatan dengan kebijakan pemerintahan mantan Presiden Joe Biden turut memengaruhi proses penilaian. Lebih dari selusin perwira tinggi, termasuk perempuan dan perwira kulit hitam, dilaporkan mengalami penundaan atau bahkan pemblokiran dalam proses kenaikan pangkat mereka.
Seorang pejabat menyatakan bahwa tidak ada satu pun matra militer yang terbebas dari kebijakan ini. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran akan adanya perpecahan internal di tubuh militer Amerika Serikat, terutama terkait profesionalisme dan netralitas institusi pertahanan.
Salah satu keputusan yang paling menonjol adalah pemaksaan pensiun terhadap Kepala Staf Angkatan Darat, Randy A. George. Ia diminta mengundurkan diri meskipun masa jabatannya seharusnya berlangsung hingga tahun 2027. Dalam pernyataan resmi, pihak Pentagon menyampaikan apresiasi atas pengabdian panjang George, namun menyebut perlunya penyegaran kepemimpinan di tubuh Angkatan Darat.
Selain itu, Letnan Jenderal David Hodne dan Mayor Jenderal William Green Jr. juga termasuk dalam daftar pejabat yang diberhentikan. Keputusan ini semakin memperkuat kesan adanya perubahan besar dalam struktur kepemimpinan militer.
Seorang perwira senior yang telah pensiun menilai bahwa campur tangan tanpa penjelasan yang jelas dapat menimbulkan ketidakpastian di kalangan korps perwira. Ia juga mengingatkan bahwa kondisi ini berpotensi menurunkan kepercayaan terhadap sistem promosi dan kepemimpinan militer.
Perkembangan ini menimbulkan pertanyaan mengenai stabilitas internal militer Amerika Serikat serta dampaknya terhadap kesiapan pertahanan negara. Di tengah situasi global yang tidak menentu, konsistensi dan profesionalisme militer menjadi faktor penting dalam menjaga keamanan nasional.

