Woyla, Rabu(12/8/2026) Sentral Media – Warga Desa Ie Itam Baroh, Kecamatan Woyla, memperingati Rabu akhir bulan Safar yang dikenal dengan tradisi Rabu Abeh dan ritual Meujalateh.
Tahun ini, Rabu akhir bulan Safar 1448 Hijriah jatuh pada Rabu, 12 Agustus 2026. Warga kemudian memperingati momen tersebut melalui rangkaian ritual adat keagamaan yang berlangsung secara turun-temurun.
Tradisi Rabu Abeh menjadi salah satu momen yang masyarakat Woyla isi dengan kegiatan keagamaan. Warga berkumpul dan mengikuti rangkaian ritual yang berkaitan dengan doa serta permohonan keselamatan.
Salah satu rangkaian utama dalam tradisi tersebut ialah Meujalateh. Warga menjalankannya dengan pawai religius sambil melantunkan syair pujian dan Nazam Isim Ya Latif.
Warga Berzikir dan Berdoa Bersama
Dalam peringatan Rabu Abeh, warga berkumpul pada pagi hari di area luar. Salah satu lokasi yang mereka gunakan ialah kawasan pinggiran daerah aliran sungai.
Warga kemudian mengikuti zikir dan doa bersama. Mereka memanjatkan doa untuk memohon keselamatan.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian tradisi Rabu Abeh yang masyarakat Woyla jalankan secara turun-temurun.
Selain zikir dan doa, warga juga mengikuti ritual Meujalateh. Tradisi ini menghadirkan suasana religius melalui lantunan syair pujian dan Nazam Isim Ya Latif.
Mengenal Ritual Meujalateh
Meujalateh merupakan tradisi pawai religius yang menjadi bagian dari peringatan Rabu Abeh di Woyla.
Dalam prosesi tersebut, warga melantunkan syair pujian dan Nazam Isim Ya Latif. Selain lantunan tersebut, warga juga membawa tongkat yang memiliki bentuk dan isi tertentu.
Warga menggunakan tongkat bambu yang mereka isi dengan kerikil dan serat ijuk aren. Tongkat tersebut kemudian menghasilkan suara ketika warga menghentakkannya.
Suara hentakan tongkat menjadi salah satu bagian khas dalam ritual Meujalateh. Masyarakat mempercayai suara tersebut secara simbolis dapat mengusir bala, setan, maupun wabah penyakit.
Karena itu, penggunaan tongkat ijuk memiliki tempat tersendiri dalam rangkaian ritual Meujalateh.
Tongkat Ijuk Menjadi Bagian Ritual
Tongkat bambu yang berisi kerikil dan serat ijuk aren menjadi perlengkapan dalam prosesi Meujalateh.
Warga menghentakkan tongkat tersebut selama menjalankan ritual. Bunyi yang muncul dari hentakan itu menjadi bagian dari suasana prosesi.
Secara simbolis, masyarakat mempercayai suara hentakan tersebut sebagai bagian dari upaya mengusir bala. Mereka juga mengaitkannya dengan upaya mengusir setan maupun wabah penyakit.
Tradisi tersebut kemudian berlanjut hingga prosesi larungan di sungai.
Tongkat Dihanyutkan ke Sungai
Setelah menyelesaikan rangkaian ritual, warga melanjutkan prosesi dengan menghanyutkan tongkat bambu ke sungai.
Semua tongkat yang digunakan dalam ritual tersebut warga hanyutkan ke aliran sungai. Namun, terdapat satu tongkat yang memiliki perlakuan berbeda.
Warga mengikat kain putih pada tongkat tersebut. Mereka kemudian menambatkan tongkat itu di sebuah pohon yang berada di tepi sungai.
Prosesi tersebut menjadi bagian akhir dari rangkaian ritual Meujalateh dalam peringatan Rabu Abeh.
Dengan demikian, warga Desa Ie Itam Baroh memperingati Rabu akhir bulan Safar 1448 Hijriah melalui sejumlah rangkaian tradisi. Mereka mengisinya dengan zikir dan doa bersama, pawai religius Meujalateh, penggunaan tongkat ijuk, hingga prosesi larungan.
Tradisi tersebut berlangsung pada Rabu, 12 Agustus 2026, bertepatan dengan Rabu akhir bulan Safar 1448 Hijriah.
Jurnalis : Tousi
Redaksi/Editor : Sentralmedia.id





