More

    Vox anak desa yang tercecer dan terlupakan

    Kisah haru Vox, remaja desa yang berjuang membantu keluarga di tengah keterbatasan, rela mengorbankan mimpinya demi masa depan sang adik.

    Sentralmedia.id,  – Dalam sebuah kesempatan dengan tidak sengaja saya bersama rombongan berpapasan langsung dengan sesosok remaja bernama Vox yang biasa disapa dari nama lengkapnya Konstantinus Vox Nguza, mengenakan celana seragam pramuka tanpa baju dan tanpa alas kaki, memanggul anakan pisang mengandengi adiknya yang terlihat imut dan lucu melintasi jalan dibawah teriknya matahari untuk ditanam di ladangnya sendiri.

    Sejenak basa basi memperkenalkan diri, saya bersama rombongan turut serta bersamanya ke ladang yang kebetulan tidak jauh dari parkiran kendaraan kami. Ketika di ajak ngobrol seputar rutinitasnya, sisawa yang duduk di bangku SMKN 1 Nangaroro itu menuturkan bahwa ia sungguh memahami situasi dan kondisi ekonomi yang tengah dialami oleh keluarganya.

    “Ia saya kasian bapak saya yang sekarang merantau di Kalimantan sana hanya untuk mengail rejeki, menafkahi mama dan adik saya yang sekarang masih duduk di bangku SD. Saya setiap hari Sabtu, pulang dari sekolah dan juga ada hari hari yang saya terpaksa absen dari sekolah untuk pulang bantu bapak dengan cara begini”.

    Ditengah obrolan ringan, nampak senyum membalut duka yang amat sangat dalam, kelopak mata digenangi nestapa dan bola mata berkaca kaca sambil mengangkat kepala memandang jauh ke langit yang berawan agar terlihat tegar iapun menuturkan ketika disinggung mengenai cita citanya.

    “Ada cita-cita om, tapi nampaknya sudah tidak mungkin tercapai dalam situasi dan kondisi ekonomi keluarga saya yang terus memburuk seperti ini. Tapi tidak apa, saya ikhlas, nanti cita-cita saya, saya gantungkan di adek saya ini, kebetulan kami dua punya cita cita yang sama. Biar saya bantu bapak untuk wujudkan cita-cita Excel”.

    Excel yang adalah nama adiknya yang kini sedang berada di bangku SD kelas V itu mendengar tutur kakaknya merasa canggung dan malu segera menghindar dari kami yang sedang duduk ngobrol santai.
    Sungguh ironis, ketika disinggung mengenai biaya pendidikan dengan polos mantan peraih medali emas cabang olahraga catur tingkat kecamatan itu mengatakan bahwa dari keseluruhan siswa yang mengenyam pendidikan di lembaga itu, hanya dirinyalah yang tidak mendapat bantuan dari pemerintah (PIP) ataupun bantuan lainnya.

    Baca Juga:  Kesenjangan sosial dan Ketidaksetaraan Akses Sumber Daya

    “Uang sekolah ia, uang sekolah tahun lalu sudah lunas. Yang ini tahun punya belum lunas. Saya tidak tahu entah kenapa di sekolah saya itu secara keseluruhanhanya hanya saya saja yang tidak mendapat bantuan dari pemerintah. Teman teman yang lain semuanya dapat bantuan”

    Kaitan dengan dugaan diskriminasi di lembaga itu, kepala sekolah tidak bisa dihubungi karana nomor yang dituju sedang berada diluar jangkauan.
    Pertemuan kami yang sangat mengesankan itu memaksa saya untuk menuangkannya dalam goresan singkat dan sederhana ini untuk di sher ke para pihak guna disimak dengan hati dan pikiran.

    SHARE:

    BERITA TERKAIT

    REKOMENDASI

    BERITA TERBARU

    ARTIKEL POPULER