More
    spot_img

    Umat Pedalaman Mekar Baru Haru Sambut Kehadiran Pastor di Hari Kenaikan Tuhan

    Perayaan Ekaristi Hari Kenaikan Tuhan di Stasi Mekar Baru menghadirkan kembali harapan dan penghiburan bagi umat pedalaman yang lama merindukan kehadiran gembala di tengah keterisolasian.

    Samarinda, Sentralmedia.id – Di sebuah wilayah yang dipagari sunyi hutan tropis dan jalan-jalan tanah yang acap kali lumpuh oleh hujan, umat kecil di pedalaman akhirnya kembali merasakan denyut yang lama hilang,kehadiran seorang gembala.

    Perayaan Ekaristi Hari Kenaikan Tuhan di stasi terpencil itu bukan sekadar agenda pastoral tahunan. Ia menjelma menjadi fragmen kemanusiaan yang lirih, tempat kerinduan rohani bertahun-tahun menemukan tubuhnya kembali. Ada air mata yang tidak jatuh, tetapi terasa di setiap tatapan umat yang memenuhi bangku-bangku gereja sederhana itu.

    Kedatangan Pastor P. Ignasius Ahan Kaha.SVD bersama rombongan pastoral seperti sebuah intervensi dalam ruang sosial yang lama mengalami kevakuman spiritual. Dalam perspektif sosiologi agama, komunitas-komunitas terpencil sering kali hidup dalam kondisi “dislokasi iman”, iman tetap ada, tetapi kehilangan ritme perjumpaan yang menopang keberlangsungannya. Di Mekar Baru, ritme itu akhirnya kembali berdetak.

    Malam sebelum perayaan, doa rosario berkumandang di antara dinding-dinding kayu rumah yang lembap oleh udara pedalaman. Suara umat yang berdoa perlahan menyatu dengan bunyi malam dan desir angin hutan. Tidak ada kemewahan liturgi. Tidak ada dekorasi megah, Yang hadir hanyalah kesederhanaan yang nyaris telanjang namun justru di sanalah iman memperlihatkan wajahnya yang paling murni.

    Secara statistik, jumlah umat yang hadir mungkin tampak kecil. Bangku gereja belum terisi penuh. Namun dalam pendekatan fenomenologi religius, kualitas pengalaman spiritual tidak pernah ditentukan oleh kuantitas massa, melainkan oleh intensitas makna yang dialami subjek iman. Setiap lagu yang dinyanyikan umat hari ini terdengar seperti arsip kesetiaan yang bertahan melawan keterisolasian.

    Momen pembaptisan menjadi titik emosional yang paling hening sekaligus paling agung Air suci yang dicurahkan di kepala sang baptisan baru tidak hanya bermakna teologis sebagai tanda kelahiran baru, tetapi juga menghadirkan simbol sosial tentang diterimanya seseorang ke dalam tubuh komunitas yang hidup. Dalam bahasa akademis, pembaptisan adalah ritus integrasi; dalam bahasa hati, ia adalah kepulangan.

    Baca Juga:  IRGC Hujani Tel Aviv dengan Rudal Khorramshahr-4

    Dalam homilinya, Pater Ignasius tidak sekadar berkhotbah. Ia menggeser orientasi umat dari spiritualitas pasif menuju spiritualitas partisipatif. “Gembalakanlah satu sama lain,” pesannya singkat, tetapi memiliki resonansi mendalam. Ajakan itu menyentuh inti kehidupan komunitas: bahwa keberlangsungan iman di daerah terpencil tidak mungkin hanya bergantung pada kunjungan pastoral, melainkan pada kemampuan umat sendiri untuk saling menjaga harapan.

    Di akhir perayaan, santap siang bersama berlangsung sederhana. Namun di atas meja-meja panjang itu, tersimpan sesuatu yang lebih besar daripada makanan: rasa syukur karena akhirnya mereka kembali merasa dilihat, didengar, dan dipeluk oleh Gereja.

    Umat Stasi Mekar Baru juga menyampaikan ucapan terima kasih yang mendalam kepada Pater Ignasius bersama seluruh rombongan pastoral yang telah menembus jauhnya perjalanan, medan yang berat, serta keterbatasan fasilitas demi hadir menyapa umat di pedalaman. Kehadiran mereka bukan hanya membawa perayaan Ekaristi, tetapi juga menghadirkan penghiburan, harapan, dan keyakinan bahwa umat kecil di pelosok tetap menjadi bagian utuh dari tubuh Gereja yang satu.

    Perpisahan siang tadi berlangsung pelan dan emosional. Beberapa tangan melambai lebih lama dari biasanya, seakan enggan membiarkan kendaraan pastoral itu pergi meninggalkan kampung kecil di tengah hutan. Sebab bagi umat di sana, kunjungan itu bukan sekadar perjalanan pelayanan melainkan tanda kasih yang nyata.

    Hari ini, Mekar Baru mengajarkan sebuah kenyataan yang sering luput dari peradaban modern, bahwa manusia dapat bertahan hidup tanpa banyak hal, tetapi tidak tanpa harapan. Dan iman betapapun lama terisolasi akan selalu menemukan jalan untuk bangkit ketika kasih datang mengetuk pintunya kembali.

     

    Penulis: Atonius Nguza

    SHARE:

    Advertisement

    BERITA TERKAIT

    REKOMENDASI

    spot_img

    BERITA TERBARU

    spot_img
    spot_img

    ARTIKEL POPULER