Opini, Sentralmedia.id – Kecelakaan demi kecelakaan terus terjadi di jalan raya Indonesia. Korban datang silih berganti, mulai dari pelajar, pekerja, hingga masyarakat biasa yang hanya ingin tiba dengan selamat di tujuan mereka. Namun, di tengah banyaknya tragedi itu, ada satu hal yang tampaknya tidak pernah berubah: perbaikan sistem keselamatan transportasi selalu berjalan lambat setelah nyawa melayang.
Belum lama ini, publik dikejutkan oleh kecelakaan maut bus ALS yang bertabrakan dengan truk di Kabupaten Musi Rawas Utara. Peristiwa tersebut menewaskan belasan orang dan meninggalkan duka mendalam bagi banyak keluarga. Di waktu yang tidak terlalu jauh berbeda, sebuah bus pariwisata yang membawa rombongan pelajar SMP masuk ke jurang di kawasan Danau Toba. Puluhan pelajar mengalami luka-luka dan trauma akibat kejadian tersebut.
Dua peristiwa itu memang berbeda lokasi dan kronologi, tetapi memiliki kesamaan yang sulit diabaikan yaitu lemahnya sistem keselamatan transportasi. Setiap kali kecelakaan besar terjadi, perhatian publik biasanya hanya bertahan beberapa hari. Setelah itu, pemberitaan mulai hilang, investigasi berjalan pelan, dan masyarakat kembali menggunakan transportasi dengan rasa waswas yang sama. Padahal, persoalan utamanya bukan sekadar sopir yang lalai atau kondisi jalan yang buruk. Ada masalah yang lebih besar, yaitu pengawasan yang lemah dan budaya keselamatan yang belum benar-benar menjadi prioritas.
Bus antarkota maupun bus pariwisata masih sering ditemukan beroperasi dengan kondisi yang dipertanyakan. Pemeriksaan kendaraan kadang hanya dianggap formalitas administrasi. Banyak masyarakat bahkan tidak mengetahui apakah kendaraan yang mereka tumpangi benar-benar layak jalan atau tidak. Di sisi lain, pengawasan terhadap jam kerja sopir, kondisi kendaraan, hingga standar operasional perjalanan masih sering longgar.

Kasus bus rombongan pelajar di kawasan Danau Toba menjadi contoh nyata bagaimana keselamatan penumpang, khususnya anak-anak, seharusnya mendapat perhatian lebih serius. Perjalanan wisata sekolah mestinya menjadi kegiatan yang aman dan menyenangkan, bukan berubah menjadi mimpi buruk yang meninggalkan trauma. Namun kenyataannya, keselamatan sering kalah oleh urusan biaya, efisiensi, dan kelalaian dalam persiapan perjalanan.
Hal yang sama terlihat pada kecelakaan bus ALS. Setelah kejadian, muncul berbagai dugaan penyebab, mulai dari faktor kendaraan hingga kondisi jalan. Tetapi pertanyaan yang lebih penting sebenarnya adalah: mengapa kendaraan dengan potensi risiko masih bisa terus beroperasi sampai akhirnya memakan korban?
Ironisnya, pola seperti ini terus berulang dari tahun ke tahun. Pemerintah biasanya baru bergerak aktif setelah tragedi besar terjadi. Razia dilakukan, pengecekan kendaraan diperketat sementara, dan evaluasi diumumkan ke publik. Namun beberapa bulan kemudian, pengawasan kembali melemah hingga kecelakaan berikutnya datang mengingatkan bahwa persoalan lama belum benar-benar selesai.
Keselamatan transportasi seharusnya tidak bersifat musiman. Nyawa manusia tidak bisa dijadikan harga yang harus dibayar untuk menyadarkan pentingnya pengawasan. Pemerintah daerah, perusahaan otobus, pihak sekolah, hingga aparat pengawas memiliki tanggung jawab yang sama untuk memastikan kendaraan yang beroperasi benar-benar aman digunakan.
Masyarakat juga perlu lebih kritis terhadap transportasi yang mereka gunakan. Selama ini, banyak penumpang memilih bus berdasarkan harga murah atau kecepatan perjalanan tanpa mengetahui kondisi armada yang digunakan. Padahal, keselamatan seharusnya menjadi pertimbangan utama, bukan sekadar biaya.
Tragedi bus ALS dan kecelakaan bus pelajar di Danau Toba seharusnya menjadi alarm keras bahwa ada sistem yang belum bekerja dengan baik. Jika perbaikan hanya dilakukan setelah korban berjatuhan, maka bukan tidak mungkin tragedi serupa akan kembali terjadi di masa depan.
Pada akhirnya, kecelakaan-kecelakaan ini bukan hanya tentang angka korban atau berita yang viral selama beberapa hari. Di baliknya ada keluarga yang kehilangan orang tercinta, ada anak-anak yang mengalami trauma, dan ada rasa aman masyarakat yang perlahan memudar setiap kali menaiki kendaraan umum.
Karena itu, yang dibutuhkan bukan sekadar belasungkawa setelah tragedi terjadi, melainkan keberanian untuk membenahi sistem agar tidak ada lagi kecelakaan yang terjadi kedepannya.
Penulis: Eka Sari Meidiana
Sumber: Publicanews & Waspada Online
*Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UMA





