More

    Studi Brin Ungkap Krisis Gizi Anak Dan Remaja Indonesia

    Sudah saatnya kita meninjau kembali makna “makan enak”.

    Sentralmedia.id  – Hasil studi terbaru dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) seharusnya menjadi tamparan keras bagi kita semua. Betapa tidak, sembilan dari sepuluh anak Indonesia berusia 5–19 tahun tercatat tidak memenuhi asupan buah dan sayur yang ideal — kurang dari lima porsi per hari. Bahkan, sebagian remaja sama sekali tidak mengonsumsi buah, sayur, atau sumber protein selama seminggu penuh.

    Kenyataan ini menunjukkan bahwa pola makan generasi muda kita telah melenceng jauh dari prinsip gizi seimbang. Alih-alih memilih makanan bergizi, mereka justru lebih akrab dengan makanan cepat saji, minuman manis, dan camilan tinggi garam serta lemak. Peneliti BRIN, Rika Rachmalina, menegaskan bahwa lima dari sepuluh anak di Indonesia mengonsumsi minuman manis setiap hari — sebuah kebiasaan yang tampak sepele, namun berisiko besar bagi kesehatan jangka panjang.

    Gaya Hidup Kekinian, Nutrisi Ketinggalan

    Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari pengaruh lingkungan sosial dan media. Kita hidup di era ketika makanan cepat saji tidak hanya mudah diakses, tetapi juga dilihat sebagai simbol gaya hidup modern dan bergengsi.

    Tren media sosial semakin memperkuat persepsi ini. Foto makanan berlapis keju, minuman boba berwarna-warni, atau dessert kekinian dengan gula berlimpah mendominasi lini masa remaja. Dalam situasi seperti ini, makanan tradisional yang sebenarnya lebih sehat justru kehilangan daya tariknya.

    Gaya hidup instan ini akhirnya menimbulkan konsekuensi serius. Survei menunjukkan banyak anak usia sekolah mengalami defisiensi zat gizi penting seperti zat besi, zink, dan vitamin D.

    Tak berhenti di situ, lebih dari 10% remaja sudah memiliki kadar kolesterol di atas batas normal, sementara 2,6% lainnya bahkan tergolong hipertensi. Ini bukan sekadar data — ini adalah peringatan keras bahwa tubuh-tubuh muda sedang menua sebelum waktunya.

    Baca Juga:  Indonesia Buka Akses Dunia Lusofon Lewat Bahasa Portugis

    Krisis Gizi dan Nilai

    Lebih jauh, pola makan tinggi gula, garam, dan lemak tidak hanya memengaruhi kesehatan fisik. BRIN mencatat bahwa kebiasaan ini berhubungan erat dengan peningkatan risiko depresi dan gangguan kognitif pada usia muda. Generasi yang seharusnya menjadi tumpuan masa depan justru menghadapi ancaman kehilangan fokus, produktivitas, bahkan semangat hidup.

    Ironisnya, krisis gizi ini lahir di tengah berlimpahnya pilihan makanan. Bukan karena kelaparan, tetapi karena salah memilih. Di sinilah letak krisis nilai: kita terlalu sibuk mengejar “modernitas” hingga lupa pada akar kesehatan dan kebijaksanaan lokal dalam makan.

    Saatnya Sekolah Jadi Garda Depan

    Solusinya tidak bisa diserahkan hanya kepada keluarga. Sekolah memiliki peran strategis dalam membentuk kebiasaan makan yang sehat. Rika menyarankan agar sekolah menyediakan makanan bergizi, memberi label gizi traffic light pada makanan kantin, serta membatasi penjualan makanan berisiko. Intervensi sederhana seperti ini telah terbukti efektif di banyak negara.

    Namun, untuk membuat perubahan nyata, diperlukan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah, perguruan tinggi, pelaku usaha, masyarakat, dan media harus berjalan seirama. Program perbaikan gizi anak dan remaja bukan sekadar kampanye sesaat — ia harus menjadi gerakan nasional yang berkelanjutan.

    Saatnya Kembali ke Meja Makan Sehat

    Krisis gizi pada anak dan remaja bukan sekadar isu kesehatan, melainkan refleksi cara hidup kita sebagai bangsa. Jika generasi muda terus tumbuh dengan pola makan yang salah, kita sedang menyiapkan masa depan yang rapuh — baik secara fisik maupun mental.

    Sudah saatnya kita meninjau kembali makna “makan enak”. Mungkin, yang benar-benar enak adalah ketika makanan kita bukan hanya menggoda lidah, tetapi juga menyehatkan tubuh dan menenangkan batin. Karena dari meja makan yang sehatlah, lahir generasi yang kuat.

    Baca Juga:  Warga Desa Maropokot Kesulitan Air Bersih

    SHARE:

    BERITA TERKAIT

    REKOMENDASI

    BERITA TERBARU

    ARTIKEL POPULER