spot_img

Suhu Politik Indonesia Memanas, Sutan Nasomal Soroti Rakyat Kecil

JAKARTA, Selasa (15/9/2026) SENTRAL MEDIA – Suhu politik Indonesia mulai menghangat menjelang Pemilu 2029. Pergerakan sejumlah tokoh lintas partai ikut menjadi perhatian di tengah berbagai persoalan ekonomi dan kehidupan yang masih dirasakan masyarakat.

Prof. Dr. Sutan Nasomal, SH., MH., tokoh pemerhati masyarakat dan pakar hukum internasional, menilai masyarakat sangat berharap Indonesia ke depan memiliki pemimpin yang benar-benar berpihak kepada rakyat.

Harapan itu, menurutnya, mencakup Presiden, Menteri, Gubernur, Bupati, hingga Wali Kota.

“Masyarakat Indonesia sangat berharap ke depan negara RI memiliki pemimpin-pemimpin baik yang memiliki keberpihakan kepada rakyat di berbagai lini kehidupan,” ujar Sutan Nasomal saat menjawab pertanyaan sejumlah pemimpin redaksi media cetak dan online, Selasa (15/9/2026).

Sutan menyampaikan pandangannya melalui telepon seluler dari kantornya di Markas Pusat Partai Oposisi Merdeka, kawasan Cijantung, Jakarta.

Suhu Politik Mulai Memanas

Sutan melihat perubahan suhu politik mulai terasa sejak pertengahan 2026.

Ia menilai dinamika politik menuju Pemilu 2029 tidak boleh membuat para pemegang kekuasaan mengabaikan persoalan masyarakat.

Menurut Sutan, isu mengenai munculnya “matahari kembar” juga tidak cukup dianggap sebagai isu politik biasa. Ia melihat istilah tersebut ikut menggambarkan meningkatnya tarik-menarik kepentingan di antara kelompok politik.

Sutan kemudian mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpancing.

Ia meminta rakyat kecil tidak terbawa arus persaingan politik elite.

“Rakyat kecil jangan terpancing atau terbawa arus,” kata Sutan.

Menurut dia, masyarakat saat ini menghadapi berbagai kesulitan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, energi bangsa seharusnya juga diarahkan untuk menyelesaikan persoalan ekonomi dan sosial.

Elite Politik Jangan Lupa Kondisi Rakyat

Sutan juga menyoroti aktivitas politik sejumlah elite yang mulai membangun komunikasi untuk menghadapi Pemilu 2029.

Baca Juga:  Sorotan Peta Politik Nasional,Gerakan Rakyat Usung Anis 2029

Ia menyinggung fenomena “sowan” ke sejumlah tokoh yang dianggap memiliki hubungan dengan calon pemimpin masa depan.

Menurut Sutan, masyarakat menyaksikan berbagai manuver politik tersebut ketika sebagian rakyat masih berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Ia mempertanyakan siapa yang akan memikirkan nasib masyarakat kecil jika perhatian elite terlalu banyak tersedot pada perebutan pengaruh politik.

“Suara sunyi di dalamnya tetap terbawa angin sehingga pemilik ratusan juta telinga di Nusantara terkejut dan kecewa. Siapa yang memikirkan nasib rakyat susah di negeri ini?” ujar Sutan.

Harga Sembako Tekan Masyarakat

Sutan juga menyoroti kondisi ekonomi masyarakat.

Ia menyebut aksi massa yang menyampaikan tuntutan secara damai sering berkaitan dengan persoalan kebijakan yang masyarakat anggap sederhana.

Namun, menurutnya, persoalan tersebut sering terasa sulit mendapatkan penyelesaian.

Sutan menyoroti kenaikan harga kebutuhan pokok yang semakin menekan masyarakat berpenghasilan kecil.

Menurut dia, sebagian masyarakat bahkan harus menambah utang untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

Kondisi tersebut, kata Sutan, perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah.

Ia mempertanyakan apakah mahalnya biaya politik ikut memberi tekanan terhadap kebijakan ekonomi dan kehidupan masyarakat.

Perizinan Usaha dan Beban Birokrasi

Selain harga kebutuhan pokok, Sutan menyoroti kesulitan masyarakat dalam membangun usaha mandiri.

Ia mengkritik sistem birokrasi yang menurutnya masih membuat sebagian masyarakat kesulitan mengurus perizinan usaha maupun perubahan alamat usaha.

Sutan juga menyinggung adanya keluhan mengenai dugaan permintaan uang pelicin dalam proses pelayanan tertentu.

Namun, persoalan tersebut perlu mendapat pemeriksaan dan pembuktian dari lembaga berwenang.

Menurut Sutan, pemerintah seharusnya membangun sistem pelayanan yang sederhana, transparan, dan mudah masyarakat akses.

Dengan sistem yang lebih mudah, masyarakat dapat mengembangkan usaha kecil tanpa menghadapi beban birokrasi yang berbelit.

Baca Juga:  Prof. Sutan Nasomal: Pahlawan Nasional TB. A. Basuni Dinilai Layak Mendapat Penghargaan Negara

Pajak Daerah Ikut Jadi Sorotan

Sutan selanjutnya menyoroti kebijakan pemerintah daerah dalam meningkatkan penerimaan kas daerah.

Ia menyebut kebijakan penagihan pajak juga menyentuh masyarakat berpenghasilan kecil.

Sutan mencontohkan pedagang warung kecil yang harus memenuhi kebutuhan usaha sekaligus membayar berbagai kebutuhan rumah tangga.

Menurutnya, kondisi ekonomi masyarakat perlu menjadi pertimbangan ketika pemerintah daerah menerapkan kebijakan penerimaan daerah.

Ia menilai masyarakat kecil membutuhkan ruang untuk bertahan dan mengembangkan usaha.

Data Kemiskinan Perlu Akurat

Persoalan data masyarakat juga mendapat perhatian Sutan.

Ia menyoroti penggunaan data sosial yang menurutnya masih menimbulkan pertanyaan, terutama ketika kelompok masyarakat miskin justru masuk dalam kategori ekonomi yang lebih tinggi.

Sutan menyebut contoh seperti tukang becak, buruh tani, lanjut usia, hingga pemulung.

Menurutnya, kelompok tersebut membutuhkan perhatian pemerintah dalam pendataan dan pemberian program sosial.

Sutan mempertanyakan alasan ketidakakuratan data yang terus muncul.

Padahal, pemerintah secara berkala melakukan sensus penduduk dan sensus ekonomi.

“Padahal selalu ada sensus penduduk dan sensus ekonomi. Mungkin data yang sebenarnya tidak pernah sampai ke meja para pemimpin,” ujar Sutan.

Ia menilai pemerintah perlu memperbaiki mekanisme pendataan agar kebijakan benar-benar sesuai dengan kondisi masyarakat.

Keluhan Rakyat Harus Sampai ke Pemimpin

Sutan juga menggambarkan kesulitan masyarakat ketika ingin menyampaikan keluhan kepada pemerintah pusat.

Ia menggunakan istilah “lantai istana yang licin” untuk menggambarkan hambatan yang menurutnya membuat suara rakyat sulit sampai kepada pengambil keputusan.

Menurut Sutan, pemerintah seharusnya membuka ruang komunikasi yang lebih luas bagi masyarakat.

Keluhan rakyat, kata dia, bukan sekadar suara yang harus dihentikan. Sebaliknya, keluhan tersebut dapat menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah.

Karena itu, ia meminta para pemimpin tidak hanya melihat peta politik menjelang Pemilu 2029.

Baca Juga:  Presiden Prabowo Tinjau, Pastikan Program MBG Berjalan Optimal

Para pemimpin juga perlu melihat kondisi masyarakat yang sedang menghadapi tekanan ekonomi.

Sutan Ingatkan Masyarakat Tetap Tenang

Di tengah meningkatnya dinamika politik, Sutan kembali mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi.

Ia meminta masyarakat tetap menjaga ketenangan dan tidak terlibat dalam konflik akibat persaingan politik elite.

Sutan juga mengajak masyarakat untuk terus menyampaikan aspirasi melalui jalur yang baik.

“Berdoalah kepada Tuhan yang tidak pernah tidur dan lantainya tidak pernah licin, sehingga doa dari rakyat pasti diterima dan diijabah,” ujar Sutan.

Menurutnya, perubahan politik seharusnya membawa harapan baru bagi masyarakat.

Bukan sebaliknya, perubahan politik justru membuat rakyat semakin terbebani.

Pada akhirnya, Sutan berharap para pemimpin nasional dan daerah menempatkan kepentingan rakyat sebagai prioritas utama.

Baginya, keberhasilan pemerintah bukan hanya terlihat dari dinamika politik elite, tetapi juga dari kemampuan negara memberikan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat.

SENTRAL MEDIA — Melihat Lebih dari yang Terlihat.

Narasumber: Prof. Dr. Sutan Nasomal, SH., MH. — Pakar Hukum Internasional, Ekonom, Presiden Partai Oposisi Merdeka, Ketua Umum Perkumpulan Advokat Muda Indonesia (PAMID) / Association of Young Indonesian Advocates, Ketua Umum YPLBH Profesor Sutan Nasomal, SH., MH., Rektor Universitas STIA-STIH Pronass, Pendiri dan Pengasuh Ponpes ASS SAQWA PLUS, serta Ketua Umum YPP Brigade Global Indonesia

SHARE:

Advertisement

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

spot_img

BERITA TERBARU

spot_img
spot_img

ARTIKEL POPULER