More

    Korea Utara Sebut Serangan AS-Israel ke Iran Langgar Kedaulatan

    Korea Utara di bawah kepemimpinan Kim Jong-un mengecam keras serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026.

    Korea Utara,  Sentralmedia.id – Rezim Kim Jong-un bereaksi keras atas serangan militer gabungan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026). Pemerintah Korea Utara menyebut operasi tersebut sebagai agresi ilegal yang melanggar kedaulatan negara dan memperburuk stabilitas kawasan Timur Tengah.

    Melalui pernyataan resmi yang disiarkan kantor berita pemerintah Korean Central News Agency (KCNA), juru bicara Kementerian Luar Negeri Korea Utara mengecam keras tindakan Washington dan Tel Aviv. Pyongyang menilai serangan itu sebagai bentuk “pelanggaran kedaulatan yang paling hina” serta mencerminkan apa yang mereka sebut sebagai praktik hegemonik Amerika Serikat di panggung global.

    Serangan tersebut dilaporkan menyasar sejumlah fasilitas strategis dan militer Iran, termasuk target di ibu kota Teheran. Media internasional menyebutkan eskalasi ini memicu gelombang serangan balasan dari Iran ke sejumlah titik yang diduga berkaitan dengan kepentingan AS dan Israel di kawasan. Situasi itu memicu kekhawatiran meluas akan pecahnya konflik regional yang lebih besar.

    Korea Utara dalam pernyataannya menegaskan bahwa peningkatan tindakan militer Amerika Serikat menjadi bukti empiris atas “peran destruktif” negara tersebut dalam merusak perdamaian dan stabilitas global. Pyongyang juga memperingatkan bahwa tindakan sepihak tanpa perlawanan berarti akan menciptakan preseden berbahaya dalam hubungan internasional.

    Reaksi keras Korea Utara dinilai sejumlah analis sebagai bagian dari sikap konsisten Pyongyang yang selama ini kerap mengkritik kebijakan luar negeri Amerika Serikat dan sekutunya. Hubungan Korea Utara dan Iran sendiri diketahui relatif dekat dalam beberapa dekade terakhir, terutama dalam kerja sama politik dan dugaan kolaborasi teknologi militer.

    Sementara itu, sejumlah negara lain dan organisasi internasional menyerukan de-eskalasi serta penyelesaian melalui jalur diplomasi. Ketegangan yang terus meningkat dikhawatirkan tidak hanya berdampak pada keamanan Timur Tengah, tetapi juga memicu ketidakstabilan ekonomi global, termasuk lonjakan harga energi dan gangguan rantai pasok internasional.

    Baca Juga:  Vox anak desa yang tercecer dan terlupakan

    Perkembangan situasi ini masih terus dipantau komunitas internasional, di tengah kekhawatiran bahwa konflik terbuka dapat menyeret lebih banyak negara ke dalam pusaran krisis geopolitik yang lebih luas. (“)

    (Ered/Sentralmedia.id)

    SHARE:

    BERITA TERKAIT

    REKOMENDASI

    BERITA TERBARU

    ARTIKEL POPULER