TEL AVIV, Sentralmedia.id – Di perbatasan Lebanon–Israel kembali meningkat setelah kelompok pejuang Syiah Hezbollah melancarkan serangkaian serangan ke pangkalan militer Israel. Dalam salah satu insiden terbaru, dua tentara dari militer Israel atau Israel Defense Forces (IDF) dilaporkan tewas akibat serangan yang terjadi di wilayah Lebanon selatan pada Minggu pagi.
Serangan tersebut kembali menimbulkan sorotan terhadap kemampuan sistem pertahanan udara Israel, Iron Dome, yang selama ini menjadi andalan negara itu untuk menghadapi serangan roket dan drone dari kelompok militan di kawasan perbatasan.
Menurut laporan media Israel, salah satu tentara yang tewas adalah Maher Khatar, seorang Sersan Kelas Satu berusia 38 tahun yang bertugas sebagai operator alat berat di unit teknik tempur Divisi Regional ke-91 “Galilee”. Ia berasal dari komunitas Druze di Majdal Shams di wilayah Dataran Tinggi Golan. Sementara identitas tentara kedua yang turut tewas masih menunggu pengumuman resmi dari militer Israel.
Insiden tersebut terjadi di dekat sebuah pos militer di wilayah Lebanon Selatan, tepat di seberang komunitas perbatasan Israel di Manara. Berdasarkan penyelidikan awal IDF, kejadian bermula ketika sebuah kendaraan lapis baja jenis Puma milik militer Israel mengalami masalah dan terjebak di tengah operasi militer di kawasan tersebut.
Untuk mengevakuasi kendaraan tersebut, militer Israel kemudian mengirim satu kendaraan lapis baja Puma tambahan serta dua buldoser lapis baja D9 ke lokasi. Namun, dalam proses evakuasi itu, salah satu buldoser D9 terkena proyektil yang diduga merupakan rudal anti-tank atau mortir yang ditembakkan dari arah Lebanon.
Serangan tersebut menyebabkan kendaraan terbakar hebat dan menewaskan dua tentara Israel yang berada di dalamnya. Insiden ini menjadi salah satu korban militer terbaru Israel sejak meningkatnya ketegangan di sepanjang perbatasan utara negara itu.
Di tengah meningkatnya serangan, sejumlah wilayah di Israel utara juga dilaporkan mengalami kerusakan akibat upaya militer menembak jatuh drone yang diluncurkan Hizbullah. Menurut pernyataan militer Israel, sebuah helikopter tempur menggunakan meriam 30 milimeter untuk menghancurkan drone yang terbang di atas wilayah perbatasan dengan Lebanon.
Dalam proses pencegatan tersebut, beberapa rumah di wilayah Israel utara dilaporkan terkena tembakan artileri secara tidak sengaja. Militer Israel mengatakan hanya sejumlah kecil bangunan yang terdampak dan tidak ada korban luka dalam insiden tersebut. Kasus itu kini sedang dalam proses penyelidikan lebih lanjut.
Militer Israel juga mengklaim telah melakukan serangan balasan terhadap sejumlah posisi Hizbullah di Lebanon selatan. IDF menyatakan telah menghancurkan beberapa peluncur roket yang menurut mereka sudah siap digunakan untuk menyerang wilayah Israel.
Dalam insiden lain, militer Israel mengatakan telah menargetkan sebuah peluncur roket di Lebanon yang sebelumnya digunakan untuk menembakkan rentetan roket ke kota Metula di Israel utara. Serangan tersebut dilakukan segera setelah peluncuran roket terdeteksi.
Secara terpisah, Israel juga melaporkan telah menewaskan seorang anggota Hizbullah melalui serangan pesawat tak berawak setelah orang tersebut teridentifikasi oleh pasukan darat di Lebanon selatan.
Di pihak lain, Hizbullah menyatakan bahwa mereka telah melancarkan beberapa serangan terhadap situs militer Israel serta kota-kota di wilayah utara negara tersebut. Dalam sebuah pernyataan resmi, kelompok tersebut mengatakan telah menembakkan rentetan roket ke pangkalan militer Misgav yang mereka sebut sebagai fasilitas logistik penting milik Israel.
Hizbullah menyebut serangan tersebut sebagai balasan atas serangan Israel terhadap puluhan kota dan permukiman di Lebanon, termasuk kawasan pinggiran selatan Beirut yang selama ini dikenal sebagai basis kuat kelompok tersebut.
Dalam pernyataan lain, Hizbullah juga mengklaim telah meluncurkan “rudal canggih” yang menargetkan pangkalan angkatan laut di kota pelabuhan Haifa di Israel utara. Serangan itu disebut sebagai kelanjutan dari operasi serupa yang sebelumnya mereka klaim telah dilakukan sehari sebelumnya.
Kelompok tersebut juga menyatakan telah melakukan dua serangan drone terhadap kota Nahariya di Israel utara. Hizbullah menyebut operasi tersebut sebagai bagian dari peringatan yang sebelumnya telah mereka keluarkan kepada kota tersebut.
Sementara itu, militer Israel mengungkapkan bahwa sekitar 200 anggota Hizbullah dan kelompok bersenjata lain telah tewas dalam berbagai serangan Israel di Lebanon sejak eskalasi konflik meningkat pada pekan lalu.
IDF menyatakan telah melakukan lebih dari 600 serangan militer di wilayah Lebanon, menggunakan sedikitnya 820 bom, setelah Hizbullah mulai menyerang wilayah Israel sebagai respons atas pembunuhan seorang pemimpin tinggi Iran.
Menurut militer Israel, dari sekitar 200 anggota Hizbullah yang tewas, sebanyak 80 orang merupakan anggota Pasukan Radwan unit elit Hizbullah yang dikenal memiliki kemampuan tempur tinggi. Selain itu, sekitar 70 anggota lainnya berasal dari unit artileri Hizbullah, serta beberapa komandan senior termasuk seorang pemimpin kelompok Palestinian Islamic Jihad di Lebanon.
Di sisi lain, Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan bahwa serangan Israel dalam sepekan terakhir telah menewaskan sedikitnya 394 orang di negara tersebut, menambah kekhawatiran akan semakin meluasnya konflik di kawasan perbatasan Lebanon dan Israel.
Eskalasi konflik yang terus meningkat ini memicu kekhawatiran komunitas internasional bahwa pertempuran antara Israel dan Hizbullah dapat berkembang menjadi konflik regional yang lebih luas di Timur Tengah. Hingga kini, kedua pihak masih terus melancarkan serangan balasan di sepanjang perbatasan, sementara warga sipil di kedua sisi menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya.

