More

    Harga Minyak Dunia Turun 5 Persen

    Optimisme gencatan senjata di Timur Tengah mendorong pelemahan harga minyak global.

    Sentralmedia.id, Jakarta – Harga minyak dunia mengalami penurunan lebih dari 5 persen pada Rabu (25/3/2026), seiring meningkatnya harapan terhadap tercapainya gencatan senjata di kawasan Timur Tengah yang dinilai dapat meredakan gangguan pasokan energi global.

    Berdasarkan laporan Reuters, harga minyak mentah Brent tercatat turun sebesar 6,21 dollar AS atau sekitar 5,9 persen menjadi 98,28 dollar AS per barel pada pukul 00.58 GMT. Dalam sesi perdagangan, harga Brent sempat menyentuh titik terendah di level 97,57 dollar AS per barel.

    Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat juga mengalami penurunan sebesar 4,67 dollar AS atau sekitar 5,1 persen menjadi 87,68 dollar AS per barel, setelah sebelumnya sempat berada di posisi terendah 86,72 dollar AS per barel.

    Penurunan harga minyak ini terjadi setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat mengajukan proposal perdamaian yang terdiri dari 15 poin kepada Iran, sebagai upaya mengakhiri konflik di antara kedua negara.

    Sebelumnya, pada Selasa (24/3/2026), kedua acuan harga minyak tersebut sempat mengalami kenaikan hampir 5 persen, sebelum akhirnya mengalami koreksi di tengah kondisi pasar yang cenderung fluktuatif.

    Chief Strategist Nissan Securities Investment, Hiroyuki Kikukawa, menyatakan bahwa ekspektasi terhadap tercapainya gencatan senjata mulai meningkat dan mendorong pelaku pasar untuk melakukan aksi ambil untung. Namun demikian, ia menilai arah pergerakan pasar masih dibayangi ketidakpastian, terutama terkait peluang keberhasilan proses negosiasi yang sedang berlangsung.

    Ia menambahkan bahwa harga minyak berpotensi kembali mengalami kenaikan apabila konflik terus berlanjut, terutama jika terjadi perluasan serangan Iran ke fasilitas energi di negara-negara sekitar atau meningkatnya tekanan untuk menutup Selat Hormuz.

    Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Selasa menyampaikan bahwa negosiasi untuk mengakhiri konflik dengan Iran menunjukkan perkembangan positif. Informasi tersebut juga diperkuat oleh sumber yang menyebutkan bahwa pemerintah AS telah mengirimkan proposal penyelesaian konflik kepada pihak Iran.

    Baca Juga:  Aksi Saling SerangTerus Memanas Antara Israil dan Iran

    Media Israel Channel 2 melaporkan bahwa Amerika Serikat mengusulkan gencatan senjata selama satu bulan guna membahas rencana penyelesaian konflik tersebut. Proposal tersebut mencakup sejumlah poin penting, antara lain pembongkaran program nuklir Iran, penghentian dukungan terhadap kelompok proksi, serta pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

    Konflik yang berlangsung saat ini telah mengganggu pengiriman minyak dan gas alam cair melalui Selat Hormuz, yang merupakan jalur strategis bagi distribusi energi global. Jalur tersebut diketahui menyalurkan sekitar seperlima dari total pasokan minyak mentah dan gas dunia. Badan Energi Internasional bahkan menilai situasi ini sebagai salah satu gangguan pasokan minyak terbesar yang pernah terjadi.

    Di tengah kondisi tersebut, Perdana Menteri Pakistan menyatakan kesiapannya untuk memfasilitasi perundingan antara Amerika Serikat dan Iran. Namun demikian, pada awal pekan ini Iran membantah adanya proses negosiasi langsung dengan pihak Washington.

    Iran juga telah menyampaikan kepada Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa serta Organisasi Maritim Internasional bahwa kapal yang tidak terlibat konflik tetap dapat melintasi Selat Hormuz dengan melakukan koordinasi dengan otoritas setempat.

    Meski demikian, ketegangan di kawasan masih berlangsung, dengan laporan mengenai serangan yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Selain itu, disebutkan pula bahwa Amerika Serikat tengah mempersiapkan pengiriman tambahan pasukan ke wilayah tersebut.

    Untuk mengatasi gangguan distribusi melalui Selat Hormuz, ekspor minyak Arab Saudi melalui pelabuhan Yanbu di Laut Merah dilaporkan meningkat hingga mendekati 4 juta barel per hari pada pekan lalu. Angka tersebut menunjukkan lonjakan signifikan dibandingkan periode sebelum konflik berlangsung.

    (Ered/Sentralmedia.id)

    SHARE:

    BERITA TERKAIT

    REKOMENDASI

    BERITA TERBARU

    ARTIKEL POPULER