Tonggurambang, Sentralmedia.id – Doa malam terakhir Novena dilaksanakan di depan pintu masuk Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Tonggurambang, pada Minggu, 2 Februari, pukul 19.30 WITA.
Doa ini menjadi penutup rangkaian Doa Novena yang telah berlangsung selama sembilan malam berturut-turut dan dipimpin oleh Pater Bertolomeus Didit, OFM, bersama umat Stasi St. Fransiskus Assisi Tonggurambang.
Pelaksanaan doa terpaksa dilakukan di luar area pemakaman karena akses masuk ke TPU terhalang pagar dan dinyatakan dilarang untuk dimasuki. Kendati demikian, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat umat untuk tetap berdoa dan mengikuti seluruh rangkaian ibadat dengan penuh penghayatan dan ketertiban.
Doa Novena merupakan salah satu bentuk doa dalam tradisi Gereja Katolik yang didaraskan selama sembilan hari atau sembilan malam berturut-turut.
Doa ini menjadi ungkapan ketekunan iman umat dalam memohon pertolongan, pengharapan, serta penyertaan Tuhan dalam berbagai situasi kehidupan. Melalui doa Novena, umat diajak untuk semakin memperdalam iman, berserah diri, dan membangun relasi yang lebih dekat dengan Tuhan.
Ketua Stasi St. Fransiskus Assisi Tonggurambang, Yohanes Mere Wea, mengatakan bahwa suasana doa sejak malam pertama hingga malam kesembilan berjalan dengan aman dan khidmat. Ia menyebut, meskipun lokasi doa berada di depan pintu masuk TPU dan berdekatan dengan jalan umum, kegiatan ibadat tidak mengalami gangguan.
“Suasana doa dari malam pertama sampai malam kesembilan berjalan aman dan khidmat. Keamanan kegiatan juga didukung oleh kehadiran teman-teman remaja masjid yang membantu menjaga lintasan jalan umum, sehingga aktivitas lalu lintas tidak terganggu,” ujar Yohanes.
Ia menambahkan, jumlah umat yang hadir dalam setiap malam doa relatif stabil. Hal ini, menurutnya, mencerminkan semangat iman umat yang tetap terjaga serta kerinduan untuk terus datang dan berseru kepada Tuhan, terlepas dari keterbatasan situasi yang dihadapi.
Yohanes juga menegaskan bahwa doa Novena ini menjadi pengingat bagi umat bahwa kasih Tuhan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Dalam kondisi apa pun, manusia tetap diajak untuk membuka hati, memiliki kesediaan dan kerelaan untuk datang kepada Tuhan, serta menyerahkan seluruh pergumulan hidup kepada-Nya.
Melalui rangkaian doa Novena tersebut, umat berharap iman semakin diteguhkan, semangat kasih dan persaudaraan antar sesama manusia semakin terpelihara, serta Tuhan berkenan mengabulkan doa-doa yang telah dipanjatkan.
Rangkaian doa ini tidak hanya menjadi ungkapan iman, tetapi juga memperlihatkan nilai kebersamaan, ketertiban, dan toleransi yang terbangun di tengah kehidupan bermasyarakat di Desa Tonggurambang.
(Tred/Sentralmedia.id)

