spot_img

KETIKA KEDEKATAN DAN KEPENTINGAN MENGALAHKAN RASIONALITAS POLITIK

Catatan Reflektif tentang Konstelasi Pemilihan Kepala Desa di Kabupaten Nagekeo

Politik adalah jalan panjang menuju kekuasaan.

Di atas jalan itu, manusia berjalan membawa nama keluarga, membawa persahabatan, membawa sejarah, membawa kepentingan, bahkan membawa luka dan kenangan.

Ada yang datang membawa gagasan.

Ada yang datang membawa harapan.

Ada yang datang membawa jaringan.

Ada pula yang datang hanya dengan satu modal sederhana:

“Saya orang kita.”

Di situlah politik desa menjadi unik.

Sebab di desa, politik tidak berdiri jauh dari kehidupan masyarakat. Politik duduk di teras rumah, berbicara di kebun, bertemu di pasar, bersalaman di tempat ibadah, bercengkerama dalam pesta keluarga, dan kadang-kadang tumbuh dari hubungan darah yang telah diwariskan turun-temurun.

Dalam ruang sosial seperti Nagekeo, seorang calon kepala desa bukan sekadar nama di surat suara.

Ia bisa menjadi saudara.

Ia bisa menjadi teman.

Ia bisa menjadi tetangga.

Ia bisa menjadi orang sekampung.

Ia bisa menjadi bagian dari keluarga besar yang selama bertahun-tahun hidup dalam satu ruang sosial.

Karena itu, memilih tidak pernah benar-benar hanya soal mencoblos.

Memilih adalah pertemuan antara akal, hati, hubungan sosial, dan kepentingan.

Namun di situlah sebuah pertanyaan besar muncul:

«Ketika hati terlalu dekat, apakah akal masih mampu melihat dengan jernih?»

Politik “Orang Kita”

Dalam politik desa, kalimat “orang kita” sering kali memiliki kekuatan yang lebih besar daripada pidato panjang tentang visi dan misi.

“Dia keluarga kita.”

“Dia orang kampung kita.”

“Dia teman kita.”

“Dia pernah membantu kita.”

“Dia dekat dengan keluarga kita.”

Kalimat-kalimat itu sederhana.

Tetapi di baliknya terdapat kekuatan psikologis yang sangat besar: rasa memiliki.

Manusia memang cenderung mempercayai orang yang dikenalnya.

Kedekatan melahirkan rasa aman.

Pertemanan melahirkan kepercayaan.

Kekerabatan melahirkan loyalitas.

Namun politik memiliki satu hukum yang tidak boleh dilupakan:

orang yang dekat dengan kita belum tentu mampu memimpin kita.

Yang sering datang belum tentu paling memahami pemerintahan.

Yang paling dikenal belum tentu paling berintegritas.

Yang paling banyak membantu belum tentu paling mampu mengelola anggaran.

Dan yang tidak terlalu dekat bukan berarti tidak memiliki kemampuan.

Karena itu, kedekatan seharusnya menjadi jembatan untuk mengenal seseorang, bukan menjadi tembok yang menutup penilaian terhadap dirinya.

Ketika Suara Memiliki Harga

Demokrasi memberikan satu suara kepada setiap warga.

Suara itu kecil.

Tidak berbunyi keras.

Tidak dapat dilihat setelah masuk ke dalam kotak suara.

Tetapi ketika ribuan suara berkumpul, suara yang kecil itu dapat mengubah siapa yang memegang kekuasaan.

Baca Juga:  Terobosan Pendidikan atau Beban Baru bagi Guru dan Sekolah

Karena itu, suara rakyat sesungguhnya bukan benda yang murah.

Ia adalah mandat.

Ia adalah kepercayaan.

Ia adalah bagian dari masa depan bersama.

Namun ketika suara mulai dipertukarkan dengan kepentingan sesaat, demokrasi menghadapi persoalan yang lebih dalam.

Pertanyaan politik berubah dari:

«”Siapa yang mampu membangun desa?”»

menjadi:

«”Apa yang saya dapat jika saya memilihnya?”»

Di situlah suara mulai kehilangan makna substantifnya.

Suara yang seharusnya menjadi amanah dapat berubah menjadi komoditas.

Dukungan hari ini dapat melahirkan tuntutan balas jasa esok hari.

Dan ketika kekuasaan telah diperoleh, orang-orang yang merasa memiliki “piutang politik” dapat datang mengetuk pintu kekuasaan.

Maka persoalannya bukan hanya siapa yang menang.

Persoalannya adalah:

utang kepada siapa yang harus dibayar setelah kemenangan itu?

Desa Tidak Boleh Menjadi Milik Para Pemenang

Inilah paradoks yang sering terlupakan.

Dalam pemilihan, masyarakat terbelah menjadi pilihan-pilihan.

Ada yang memilih A.

Ada yang memilih B.

Ada yang memilih C.

Ada yang memilih karena keluarga.

Ada yang memilih karena pertemanan.

Ada yang memilih karena kepentingan.

Ada pula yang memilih karena pertimbangan program dan kapasitas.

Tetapi setelah pemilihan selesai, semua perbedaan itu seharusnya berhenti di bilik suara.

Sebab desa bukan milik pemenang.

Desa bukan milik tim sukses.

Desa bukan milik keluarga kepala desa.

Desa bukan milik kelompok yang paling banyak memberikan suara.

Desa adalah milik seluruh masyarakatnya.

Karena itu, kepala desa yang telah memperoleh mandat harus mampu meninggalkan identitas sebagai “calon”.

Ia bukan lagi calon dari kelompok tertentu.

Ia adalah pemimpin seluruh warga.

Yang memilihnya harus dilayani.

Yang tidak memilihnya juga harus dilayani.

Yang mendukungnya harus dihormati.

Yang mengkritiknya juga harus dihormati.

Sebab kekuasaan publik tidak boleh berubah menjadi hadiah bagi kelompok pemenang.

Kepala Desa dan Ujian Kekuasaan

Menjadi kepala desa bukan sekadar memenangkan pemungutan suara.

Kemenangan hanyalah pintu masuk.

Setelah pintu terbuka, pekerjaan sebenarnya baru dimulai.

Ada masyarakat yang menunggu pelayanan.

Ada jalan yang membutuhkan perhatian.

Ada pembangunan yang harus direncanakan.

Ada administrasi yang harus diselesaikan.

Ada anggaran yang harus dipertanggungjawabkan.

Ada masyarakat miskin yang membutuhkan keberpihakan.

Ada konflik yang harus diselesaikan.

Ada generasi muda yang membutuhkan ruang untuk tumbuh.

Dan ada harapan masyarakat yang tidak semuanya dapat dituangkan dalam baliho kampanye.

Karena itu, ukuran seorang kepala desa bukanlah berapa banyak suara yang ia peroleh.

Ukuran kepemimpinannya adalah apa yang ia lakukan setelah suara itu berubah menjadi mandat.

Kemenangan dapat dihitung dengan angka.

Baca Juga:  KPM Desa Tumbang Puroh Pertanyakan Penghentian Bantuan

Tetapi keberhasilan pemerintahan diukur melalui perubahan kehidupan masyarakat.

Dari Keluarga Menuju Kapasitas

Barangkali inilah salah satu tantangan terbesar politik desa.

Bagaimana mengubah budaya:

“Dia keluarga saya.”

menjadi:

“Dia mampu bekerja untuk keluarga kita semua.”

Bagaimana mengubah:

“Dia teman saya.”

menjadi:

“Dia mampu menjadi teman bagi seluruh masyarakat.”

Bagaimana mengubah:

“Dia orang kampung saya.”

menjadi:

“Dia mampu bekerja untuk seluruh kampung.”

Dan bagaimana mengubah:

“Dia pernah membantu saya.”

menjadi:

“Ia mampu membantu masyarakat melalui kebijakan yang adil.”

Perubahan cara berpikir semacam itu bukan berarti menghapus adat, kekerabatan, atau solidaritas.

Justru sebaliknya.

Ia adalah usaha membawa nilai-nilai sosial tersebut ke dalam ruang pemerintahan yang lebih luas.

Rasionalitas Bukan Musuh Perasaan

Manusia bukan mesin.

Kita memilih dengan pengalaman.

Kita memilih dengan kenangan.

Kita memilih dengan perasaan.

Kita memilih dengan hubungan sosial.

Karena itu, tidak mungkin politik sepenuhnya bebas dari emosi.

Tetapi rasionalitas hadir bukan untuk membunuh perasaan.

Rasionalitas hadir untuk mengendalikan perasaan agar tidak membutakan penilaian.

Kita boleh mencintai saudara.

Kita boleh menghormati teman.

Kita boleh menghargai keluarga.

Kita boleh mengenang jasa seseorang.

Tetapi ketika seseorang hendak diberi kewenangan mengelola pemerintahan desa, pertanyaan publik harus tetap hidup:

Apakah ia mampu?

Apakah ia berintegritas?

Apakah ia memahami pemerintahan?

Apakah ia mampu mengelola keuangan desa?

Apakah ia mampu menerima kritik?

Apakah ia mampu berdiri di tengah masyarakat tanpa membeda-bedakan pilihan politik?

Sebab memilih bukan hanya soal siapa yang kita cintai.

Memilih adalah menentukan kepada siapa kita menitipkan sebagian masa depan kita.

Nagekeo dan Cermin Demokrasi Desa

Pemilihan kepala desa di Nagekeo pada akhirnya bukan sekadar pertarungan antarcalon.

Ia adalah cermin masyarakat.

Di dalamnya terlihat bagaimana kita memahami kekuasaan.

Jika kita memilih karena program, berarti kita sedang menempatkan gagasan sebagai pertimbangan.

Jika kita memilih karena rekam jejak, berarti kita sedang belajar dari masa lalu.

Jika kita memilih karena kapasitas, berarti kita sedang memikirkan masa depan.

Tetapi jika pilihan hanya ditentukan oleh kedekatan, kita sedang membiarkan hubungan pribadi mengambil ruang yang seharusnya juga diisi oleh pertimbangan publik.

Dan jika pilihan sepenuhnya ditentukan oleh keuntungan pribadi, maka demokrasi berisiko menyempit menjadi transaksi.

Padahal demokrasi seharusnya lebih luas daripada itu.

Demokrasi adalah cara masyarakat menitipkan masa depan kepada seseorang melalui sebuah mandat.

Setelah Kotak Suara Ditutup

Pada hari pemilihan, masyarakat datang membawa harapan.

Mereka berdiri.

Mencoblos.

Melipat surat suara.

Kemudian memasukkannya ke dalam kotak.

Baca Juga:  Warga Maropokot Nagekeo Setahun Krisis Air Bersih

Setelah itu, suara dihitung.

Ada yang bersorak.

Ada yang diam.

Ada yang menangis.

Ada yang kecewa.

Tetapi ketika semua selesai, matahari tetap terbit di atas desa yang sama.

Jalan yang sama masih ada.

Sawah dan kebun masih terbentang.

Anak-anak masih pergi sekolah.

Orang tua masih menunggu pelayanan.

Masyarakat miskin masih membutuhkan perhatian.

Dan desa tetap membutuhkan pembangunan.

Pada saat itulah politik berhenti menjadi pesta.

Ia berubah menjadi pekerjaan.

Karena memenangkan pemilihan adalah satu perkara.

Membuktikan bahwa kemenangan itu layak dipercaya adalah perkara yang jauh lebih panjang.

Penutup: Memilih dengan Hati, Tetapi Jangan Kehilangan Akal

Kedekatan adalah manusiawi.

Kepentingan adalah manusiawi.

Loyalitas adalah manusiawi.

Emosi adalah manusiawi.

Tetapi kekuasaan memiliki konsekuensi yang tidak selalu manusiawi terhadap satu orang saja.

Ia menyentuh seluruh masyarakat.

Karena itu, mungkin kita tidak perlu memilih antara hati dan akal.

Kita hanya perlu memastikan bahwa:

«hati tidak membutakan akal, dan akal tidak mematikan hati.»

Sebab orang yang kita pilih hari ini mungkin akan menentukan wajah pemerintahan desa bertahun-tahun ke depan.

Orang yang kita pilih karena kedekatan akan diuji oleh kapasitas.

Orang yang kita pilih karena kepentingan akan diuji oleh pertanggungjawaban.

Orang yang kita pilih karena popularitas akan diuji oleh pekerjaan.

Dan orang yang kita pilih karena kepercayaan akan diuji oleh waktu.

Pada akhirnya, pemilihan kepala desa bukan hanya tentang:

siapa keluarga kita,

siapa teman kita,

siapa orang sekampung dengan kita,

atau

siapa yang pernah memberikan sesuatu kepada kita.

Pertanyaan yang jauh lebih dalam adalah:

«Kepada siapa kita menitipkan masa depan desa?»

Sebab satu suara mungkin hanya keluar dari tangan seorang manusia.

Tetapi ketika ribuan suara bertemu dalam sebuah keputusan politik, ia dapat menentukan arah sebuah pemerintahan.

Dan di situlah demokrasi menemukan makna terdalamnya:

kita bebas menentukan pilihan, tetapi kita hidup bersama dengan akibat dari pilihan tersebut.

Maka sebelum suara dimasukkan ke dalam kotak, barangkali ada satu pertanyaan yang layak dibisikkan kepada hati sendiri:

«”Apakah saya sedang memilih seseorang karena saya mengenalnya, atau karena saya percaya ia mampu memimpin seluruh masyarakat?”»

Karena desa tidak membutuhkan sekadar pemenang.

Desa membutuhkan kepemimpinan.

Dan kepemimpinan tidak lahir hanya dari banyaknya suara.

Ia harus dibuktikan melalui kerja, integritas, keberanian, dan pengabdian setelah suara-suara itu selesai dihitung.

SHARE:

Advertisement

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

spot_img

BERITA TERBARU

spot_img
spot_img

ARTIKEL POPULER