Tidak suka menulis bukanlah hal yang harus dipaksakan. Namun, sangat disayangkan jika pikiran Anda dibiarkan begitu saja dan menjadi mubazir.
Bukan persoalan mengenai ketabuan dalam menulis atau kepekaan terhadap ketidakmampuan diri Anda. Bakat bukanlah sesuatu yang sepenuhnya diturunkan dari siapa pun orang tua kita. Jika Albert Einstein adalah ayah saya, apakah saya juga harus menjadi seperti dirinya? Pada akhirnya, semuanya kembali pada bagaimana Anda menyikapinya dengan hati yang senang.
Maksud saya mungkin dapat memahami anda bahwa untuk apa dan sampai kapankah anda harus terus membaca dan membaca? Sampai kapankah anda harus mengurung ide-ide cemerlang yang anda miliki?
Saya sedang membutuhkan pemikiran rasional yang sedikit gila dari anda. Coba lebih terbuka diri bahwa ide anda juga sangat penting bagi kelangsungan hidup orang lain. Bukan hanya objek hidup, objek mati pun membutuhkan anda. Pandangan ini perlu harus disinggung lebih cepat. Saya tidak bermaksud menyepelehkan bahwa diri anda tidak berkompeten di bidang ini, tetapi di lain situasi seorang anak SMP dua tingkat lebih diatas kita.
Mereka mungkin cerdik caberawit atau si anak kancil yang hebat. Ini catatan penting agar bagaiman kita merespon lebih cepat terhadap hal-hal mustahil yang terjadi diluar dugaan kita. Jika si anak SMP lebih gila, kita pun seharusnya paling gila. Dengan catatan “Rasionalisasi sesuai akal sehat.”
Kendala utama dalam menulis adalah kita tidak begitu memahami materi apa yang akan kita tulis, penggunaan pada awal kata yang tepat, minimnya kata-kata dan kurangnya bahan bacaan. Sebuah cerita tentang seorang mahasiswa yang mulai ingin menjadi penulis, ia bertanya setelah membaca tulisan saya yang termuat dalam Koran Harian Fajar Makassar berjudul “Apa Indonesia.” Sejelas mungkin saya sampaikan padanya bahwa.
Mengapa anda harus menulis?
Seorang filsuf terkenal takkan mampu berkeliling dunia dan berbicara setiap saat demi secuil ceramah, nasihat, motivasi kepada seluruh umat manusia. Menyampaikan teori filsafatnya bukan hanya akhir dengan berbicara. Menulis adalah metode yang paling tepat mengungkapan perasaan dan pemikiran atas persoalan yang sedang dihadapi manusia.
Penyebab bergerak hati untuk saya menulis adalah ketika suara saya tidak lagi anda dengar, pemikiran saya tidak lagi dibutuhkan oleh lingkungan sekitar dimana kita berdomisili. Maka menulis adalah cara terbaik dan paling bijak untuk menyampaikan aspirasi anda.
Apa yang harus anda tulis?
Alam semesta ini adalah biang masalah bagi manusia, mengapa demikian? Jawabannya adalah karena manusia itu sendiri. Apa yang harus kita tulis? Facebook tak cukup untuk menampung ide-ide anda. Ruangnya sangat kecil sekecil status kegalauan anda. Para pembaca pun sekitar orang-orang yang anda ajak berteman.
Jika anda kehilangan daya imajinasi, maka yang perlu dilakukan anda adalah memperbanyak referensi dengan membaca atau meng-update berita yang sedang hangat diperbincangkan. Jika anda masih menemui kebuntuan, maka yang harus dilakukan anda adalah menulislah dari kisah anda sendiri. Kisah asmara adalah favorit kaum muda, setidaknya masalah ini dapat membantu disaat anda menulis.
Hal yang paling mudah untuk melatih anda menulis yaitu cukuplah sebait dua bait puisi cinta untuk orang tercintakasih anda. Pacar, sahabat, atau orang tua. Pilihlah opsi yang paling mudah ditulis. Jika masih tetap menemui sebuah jalan buntu, maka temuilah saya segerah. Pastinya keninga anda benjol.
Jangan percaya bakat
Ah… saya tidak suka menulis dikarenakan saya tidak memiliki bakat sejak lahir. Dan saya bukan keturunan dari seorang penulis.
Sebuah kisah diwaktu kecil, saya memeiliki seekor kambing jantan jinak yang suka berlari kesana kemari. Dan Ia selalu melakukan kegiatan itu setiap hari. Saya memperhatikan gerak-geriknya mulai ada perubahan yang menurut saya ia berbakat pada bidang itu. Ia sangat menyukai daun lamtoro, dengan demikian daun lamtoro sebagai umpan agar ia mau dilatih oleh saya.
Sebulan kemudian tersebarlah berita bahwa akan ada perlombaan uji lari kambing. Saya pun mempersiapkan dirinya dengan memberi asupan gizi yang cukup untuk menjaga kesehatannya. Perlombaan pun dimulai. Dan pada akhirnya kambing jantan saya menjadi juara pertama dalam perlombaan itu. Banyak yang mengatakan bahwa kambing saya itu sangat berbakat.
Jika anda masih percaya pada bakat, berarti anda tidak jauh berbeda dengan kambing saya. Bakat adalah proses anda untuk menulis atau dengan memberi daun lamtoro sebagai umpan untuk anda mau berlatih. Bakat juga adalah kemauan anda, seperti kambing yang menyukai daun lamtoro sebagai motivasi agar kambing sedapat mungkin mengikuti perintah saya.
Dengan berlatih terus menerus secara serius berarti anda dapat mengalahkan kambing saya di ajang uji lari. Dengan kata lain, orang yang serius berusaha akan mendapatkan prestasi baik, seperti kambing saya yang menjuarai perlombaan uji lari kambing.
Mengutip dari kata Aa Gym dalam merubah diri yakni 3 M. “Mulailah dari diri sendiri, Mulailah dari sekarang, dan Mulailah dari hal-hal kecil”. Dan pada akhirnya “Lama-lama menjadi bukit”.
Banyak Membaca
Seharusnya anda mandi terlebih dahulu sebelum menikmati malam minggu bersama pacar anda yang cantik menawan itu. Biar wajah standar/jelek asalkan tidak bau asem. Mau menulis tetapi malas membaca, itu sama halnya “salah alamat” seperti lagu Ayu Tingting.
Menurut saya membaca itu adalah teori dan menulis itu adalah praktik. Mengapa demikian? Anda pasti puyeng ketika akan memulainya. Minimnya kosa kata yang anda miliki memungkinkan anda memilih lebih cepat untuk mengakhiri semuanya.
Tetapi jika anda tetap menulis atau memaksa otak anda untuk berfikir keras, maka anda akan mengalami terkerucutnya syaraf-syaraf otak yang berakhir pada penurunan daya ingat, daya imajinasi, dan rasa kantuk yang berlebihan. Lalu kapan saya bisa membaca tulisan anda, kalau anda masih demikian berlangsung dengan kebiasaan buruk itu? Oleh karena itu, menulislah dengan hati yang merdeka.
Membaca adalah teori?
Selesai anda membaca tulisan saya, anda berkesimpulan bahwa tulisan Sdr. Rogal tidak bagus. Seharusnya ia begini, bukan begitu. Pembahasan tidak bersinegis dengan judul. Alur yang diangkat pun tidak sampai pada klimaks inti yang dimaksud oleh Sdr. Rogal. Dari situlah teori anda bermunculan berdasarkan pengamatan anda, dengan segerah anda mengambil kertas dan pena untuk menulis menciptakan teori baru menurut anda.
Menulis adalah Praktik?
Ini adalah pertandingan antara saya dan anda. Tulisan kita menjadi rujukan untuk memenangkan trofi kepenulisan. Jika pun menurut anda bahwa tulisan saya tidak berbobot, secara pribadi itu vonis rasional. Tetapi akan lebih tidak masuk akal jika berakhir dengan diam saja tanpa tombak-balik dari anda. Menurut istilah publik Teori harus bersebelahan dengan Tindakan.
Pihak penerbit Buku ataupun Percetakan Majalah/Koran akan mempublish tulisan anda jika menurut mereka sangat berkualitas. Pada akhirnya tulisan anda selalu diburu oleh pihak penerbit maupun percetakan. Mengapa demikian? Tidak lain adalah kejeniusan anda dalam menulis yang menghidupkan ruang gerak para pembaca dan pasar.
Menulis dan Rejeki
Anda tidak perlu khawatir segala usaha sudah pasti ada imbalannya. Jika anda malas ke Masjid atau malas ke Gereja, maka imbalannya adalah dosa. Anda diputuskan pacar pun ada imbalannya yaitu status galau berkepanjangan. Menulis pun juga demikian pasti ada imbalannya. Setiap tulisan yang anda kirim baik puisi, opini ataupun cerpen melalui Via Email akan dibaca oleh Editor koran.
Jika tulisan anda bagus dan dapat melunakan hati si editor, tunggu saja beberapa hari, tulisan anda akan dibaca semua orang, kemungkinan pacar anda juga membacanya. Pada akhirnya pacar anda minta balikan. Tentunya ada kepuasan tersendiri bagi diri anda. Bukan hanya itu, rejeki pun juga anda dapatkan. Jadi anda bisa memakai rejeki itu untuk mencari pacar baru.
*ditulis oleh : Rogal Muhamad

