More

    Nagekeo One Be 2025 – Kebangkitan Ekonomi Kreatif

    Ekonomi kreatif bukan tentang event, tapi tentang ekosistem. Dan ekosistem hanya akan tumbuh jika ada kebijakan jangka panjang, bukan sekadar perayaan tahunan.

    Mbay, Sentralmedia.id  – Festival Nagekeo One Be 2025 yang digelar di Lapangan Berdikari, Danga, adalah lebih dari sekadar pesta budaya. Ia adalah manifestasi dari cita-cita baru Nagekeo menjadikan warisan lokal sebagai fondasi ekonomi masa depan.

    Tema tahun ini, “Kebangkitan Ekonomi Kreatif”, tidak dipilih secara kebetulan. Ia mencerminkan semangat daerah yang sedang berupaya keluar dari bayang-bayang ketertinggalan ekonomi menuju arah yang lebih progresif melalui kreativitas, ide, dan inovasi.

    Sebagai pengamat kebudayaan lokal, saya melihat festival ini sebagai momentum penting. Ia bukan hanya menampilkan tarian dan kuliner, tetapi juga menandai transformasi paradigma: dari pariwisata berbasis tontonan menuju pariwisata berbasis pemberdayaan.

    Nama “Nagekeo One Be” sendiri memuat filosofi mendalam. One berarti “dalam”, sedangkan Be adalah tas khas pria dewasa Nagekeo yang dibuat dari anyaman pandan dan lontar. Secara simbolik, One Be mengajarkan bahwa segala kekayaan budaya dan kreativitas masyarakat Nagekeo berasal dari “dalam”dari hati, dari akar tradisi, dari nilai yang diturunkan leluhur.

    Sebagai penulis, saya melihat filosofi ini amat relevan di tengah arus globalisasi yang sering menyeragamkan selera dan gaya hidup.“Dalam Be” berarti kembali ke sumber, menggali potensi lokal, dan menjadikannya modal untuk bersaing di dunia modern. Ketika ekonomi kreatif tumbuh dari budaya, maka yang dihasilkan bukan hanya keuntungan, tapi juga keberlanjutan identitas.

    Festival ini memberi ruang bagi tujuh subsektor ekonomi kreatif: kriya, kuliner, fotografi, fashion, musik, seni rupa, dan seni pertunjukan. Bagi saya, ini adalah langkah strategis karena ekonomi kreatif selalu berada di antara dua dunia: dunia seni dan dunia pasar. Ia menuntut pelaku lokal tidak hanya mahir mencipta, tapi juga piawai menjual, memasarkan, dan berkolaborasi.

    Baca Juga:  Dunia Semakin Mengakui Palestina

    Namun di sinilah tantangan terbesar bagi daerah seperti Nagekeo: bagaimana mendorong pelaku UMKM dan talenta lokal agar tidak berhenti pada euforia festival, melainkan terus tumbuh menjadi ekosistem ekonomi yang berkelanjutan. Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri; ia harus menjadi fasilitator, bukan hanya penyelenggara acara.

    Saya memuji langkah Dinas Pariwisata Nagekeo yang menggandeng event organizer profesional agar festival ini bisa memenuhi kriteria Kharisma Event Nusantara (KEN) Kemenparekraf RI. Ini menunjukkan bahwa Pemda mulai berpikir jangka panjang. Namun, saya juga ingin menekankan: event tidak boleh berhenti sebagai tontonan tahunan.

    Festival yang sejati adalah festival yang meninggalkan jejak baik dalam bentuk peningkatan pendapatan masyarakat, peningkatan kapasitas kreator, maupun terbentuknya jaringan kerja yang solid antara pelaku budaya, usaha, dan pemerintah. Festival Nagekeo One Be harus menjadi gerakan ekonomi dan budaya yang hidup sepanjang tahun, bukan sekadar berlangsung empat hari di lapangan Danga.

    Silvester Teda Sada, Kepala Dinas Pariwisata Nagekeo, mengatakan bahwa One Be juga merepresentasikan semangat kebersamaan dan gotong royong. Saya sepenuhnya sependapat.

    Dalam konteks pembangunan daerah, gotong royong bukan sekadar nilai tradisional, tetapi strategi sosial-ekonomi. Kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan pelaku usaha yang disebutkan Sil Teda adalah kunci agar pariwisata dan ekonomi kreatif tidak berjalan terpisah.

    Sebagai warga yang percaya pada kekuatan lokal, saya yakin kebangkitan ekonomi Nagekeo tidak akan datang dari investor besar semata, tapi dari sinergi antar warga yang berani berinovasi dengan akar budayanya sendiri.

    Namun, saya juga merasa perlu mengingatkan: setiap kebangkitan menuntut tanggung jawab. Jika festival ini hanya menjadi ajang pameran tanpa keberlanjutan, maka “kebangkitan ekonomi kreatif” akan tinggal slogan.

    Baca Juga:  Kesenjangan sosial dan Ketidaksetaraan Akses Sumber Daya

    Kita perlu melihat bagaimana pelaku UMKM didampingi pasca-festival, bagaimana produk lokal didorong menembus pasar digital, dan bagaimana anak muda Nagekeo dilatih menjadi kreator profesional, bukan sekadar peserta lomba.

    Ekonomi kreatif bukan tentang event, tapi tentang ekosistem. Dan ekosistem hanya akan tumbuh jika ada kebijakan jangka panjang, bukan sekadar perayaan tahunan.

    SHARE:

    BERITA TERKAIT

    REKOMENDASI

    BERITA TERBARU

    ARTIKEL POPULER