More

    Tragedi Pohon Tumbang di Kota Soroti Kesadaran Lingkungan

    Tragedi yang menimpa seorang pengemudi mobil Lexus di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, Minggu (26/10/2025), bukan sekadar kecelakaan akibat cuaca buruk.

    Sentralmedia.id – Tragedi yang menimpa seorang pengemudi mobil Lexus di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, Minggu (26/10/2025), bukan sekadar kecelakaan akibat cuaca buruk. Ia adalah cermin dari kelalaian kolektif kita terhadap tata kelola ruang hidup perkotaan.

    Hujan deras disertai angin kencang memang tak dapat dihindari. Namun, pohon tumbang yang merenggut nyawa manusia bukan semata soal cuaca ekstrem, melainkan sinyal bahwa ada sesuatu yang salah dengan cara kita merawat kota.

    Di tengah deretan gedung megah dan jalan raya beraspal mulus, pohon-pohon tua dibiarkan rapuh, tanpa perawatan, tanpa evaluasi risiko, seolah hanya pajangan hijau di tengah beton.

    Pertanyaannya sederhana: berapa banyak lagi nyawa harus melayang hanya karena sebuah pohon yang dibiarkan berdiri tanpa perhatian?

    Dinas terkait mungkin segera bergerak membersihkan batang, mengevakuasi korban, lalu mengeluarkan pernyataan standar: “Kami sedang melakukan pendataan.”

    Namun, setelah itu? Semua akan kembali seperti semula, hingga hujan berikutnya menumbangkan pohon lain dan mengguncang satu nyawa lagi.

    Inilah wajah klasik pengelolaan kota kita: reaktif, bukan preventif.
    Kita terlalu sibuk menambal, terlalu lambat memeriksa akar masalah.

    Setiap musim hujan, laporan pohon tumbang muncul berulang dari Jakarta hingga daerah lain, namun sistem perawatan pohon pemangkasan berkala, audit usia pohon, dan pemetaan risiko masih sebatas wacana di meja birokrasi.

    Kita lupa bahwa pohon bukan hanya hiasan kota, tetapi makhluk hidup yang menua dan melemah. Mereka, seperti manusia, butuh perhatian, perawatan, dan pemeliharaan. Ketika angin bertiup kencang, pohon yang tidak dirawat adalah ancaman, bukan perlindungan.

    Maka, insiden di Pondok Indah mestinya menjadi peringatan keras bagi pemerintah daerah bukan hanya Dinas Pertamanan, tapi seluruh jajaran yang bertanggung jawab atas tata ruang dan keselamatan publik.

    Baca Juga:  Rapim Kemhan-TNI 2026 Fokus Penguatan Pertahanan Negara

    Kota yang aman bukan hanya diukur dari minimnya kriminalitas, tetapi juga dari seberapa serius pemerintahnya menjaga keselamatan warganya dari bencana yang bisa dicegah.

    Kita juga perlu mengubah cara pandang. Keselamatan bukan urusan petugas semata. Warga kota perlu ikut peduli melaporkan pohon yang miring, ranting yang rawan patah, atau genangan yang berpotensi melumpuhkan. Kewaspadaan publik adalah benteng pertama dalam menghadapi risiko.

    Jakarta dan kota-kota besar lainnya harus belajar dari setiap peristiwa tragis, sekecil apa pun. Jangan biarkan korban berikutnya jatuh karena kita terlalu sibuk mencari alasan.

    Karena pada akhirnya, pohon tumbang bukan sekadar tentang alam yang marah, tetapi tentang manusia yang lalai.

    SHARE:

    BERITA TERKAIT

    REKOMENDASI

    BERITA TERBARU

    ARTIKEL POPULER