More

    Dunia Semakin Mengakui Palestina

    Apakah momentum pengakuan negara-negara Barat besar ini akan mengubah realitas di lapangan? Jawabannya belum jelas.

    Sentralmedia.id – Di aula Majelis Umum PBB, riuh tepuk tangan bergema saat Presiden Prancis Emmanuel Macron menyampaikan pidato bersejarahnya. “Sesuai dengan komitmen bersejarah negara saya untuk Timur Tengah, untuk perdamaian antara Israel dan Palestina, hari ini Prancis mengakui negara Palestina,” ujarnya, disambut senyum lebar para diplomat Palestina.

    Pidato Macron itu menjadi simbol babak baru. Setelah puluhan tahun hanya didukung negara-negara Asia, Afrika, Timur Tengah, dan Amerika Latin, Palestina kini mendapat pengakuan resmi dari negara-negara Barat besar yang selama ini lebih berhati-hati. Pada Minggu, 21 September 2025, Kanada, Australia, Inggris, dan Portugal secara serentak mengumumkan pengakuan mereka.

    Sehari kemudian, giliran Prancis menyusul dalam konferensi tingkat tinggi khusus Penyelesaian Damai Palestina di New York, forum yang diinisiasi Macron bersama Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman.

    Sejak lama, lebih dari 150 negara anggota PBB mengakui kemerdekaan Palestina. Namun dukungan terbuka dari negara-negara Barat besar memberi bobot simbolis dan politik yang berbeda. Para pengamat melihatnya sebagai tekanan moral bagi Israel dan Amerika Serikat agar kembali serius pada “Solusi Dua Negara”—gagasan pembentukan negara Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza, dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.

    Meski begitu, pengakuan ini masih bersifat de jure dan belum berbuah nyata di lapangan. Palestina tetap terpecah: Otoritas Palestina di Tepi Barat hanya mengendalikan sebagian wilayah akibat pendudukan militer Israel, sementara Jalur Gaza porak-poranda akibat perang yang terus berlangsung. Resolusi Dewan Keamanan PBB mengenai pengakuan penuh Palestina pun kerap diveto oleh Amerika Serikat.

    Sikap dunia terhadap Palestina kian menjadi isu geopolitik yang menentukan. Amerika Serikat dan Israel memboikot forum PBB yang diinisiasi Prancis dan Arab Saudi itu. Delegasi Israel bahkan keluar ruangan, sementara Presiden Palestina Mahmoud Abbas tidak mendapat visa untuk hadir langsung.

    Baca Juga:  DPR RI Mengapresiasi Kesiapan Pelaksanaan Tugas TNI

    Indonesia pun tak tinggal diam. Presiden Prabowo Subianto menegaskan kembali dukungan Indonesia bagi kenegaraan Palestina, bahkan menawarkan pengiriman pasukan perdamaian ke Gaza. “Kita harus menjamin kenegaraan Palestina,” tegasnya dalam pidato di PBB. Ia juga menyatakan bahwa Indonesia siap mengakui Israel setelah Israel secara resmi mengakui kemerdekaan Palestina.

    Bagi bangsa Palestina sendiri, pengakuan ini membawa harapan baru. “Pengakuan ini mengirimkan pesan bahwa pendudukan dan apartheid terhadap Palestina semakin ditolak dunia,” kata Utusan Palestina untuk Kanada, Mona Abuamara. Presiden Abbas pun berjanji melaksanakan reformasi dan membangun pemerintahan yang demokratis dan pluralis.

    Apakah momentum pengakuan negara-negara Barat besar ini akan mengubah realitas di lapangan? Jawabannya belum jelas. Namun bagi rakyat Palestina, setiap pengakuan adalah penegasan bahwa perjuangan mereka untuk mendapatkan hak atas tanah, kemerdekaan, dan masa depan yang bermartabat, kini tak lagi hanya jadi isu regional, tetapi isu dunia.

     

    SHARE:

    BERITA TERKAIT

    REKOMENDASI

    BERITA TERBARU

    ARTIKEL POPULER