spot_img

Perang Melawan Narkoba Harus Dimulai dari Keluarga

Oleh: Sadarudin P.M. Pimpinan Redaksi dan Pemilik Sentral Media

Aceh Barat, Sentralmedia.id – Ketika berbicara tentang narkoba, perhatian masyarakat sering kali tertuju pada penangkapan, proses hukum, dan hukuman terhadap pelaku. Padahal, ada persoalan yang jauh lebih penting untuk kita renungkan bersama: bagaimana mencegah generasi muda agar tidak sampai terjerumus ke dalam lingkaran narkoba.

Sebagai pimpinan redaksi sekaligus pemilik media, saya melihat persoalan ini bukan hanya sebagai sebuah pemberitaan. Ini adalah persoalan sosial yang menyangkut masa depan anak-anak dan generasi muda.

Karena itu, seruan Ketua DPC Garda Anti Narkoba Indonesia (GANI) Aceh Barat, Tousi, agar masyarakat bersama-sama memerangi narkoba menurut saya patut mendapatkan perhatian.

Tousi yang juga menjabat sebagai Wakil Sekretaris DPD GANI Provinsi Aceh mengingatkan bahwa narkoba dapat berawal dari sesuatu yang dianggap sederhana. Rasa penasaran, ajakan teman, hingga keinginan mencari kesenangan sesaat dapat menjadi pintu masuk menuju persoalan yang lebih besar.

“Jangan pernah menganggap narkoba sebagai permainan. Bisa saja berawal dari coba-coba, tetapi kemudian berubah menjadi ketergantungan dan merampas masa depan seseorang,” tegas Tousi.

Jangan Menunggu Sampai Terlambat

Menurut saya, kalimat tersebut mengandung pesan yang sangat penting.

Kita tidak boleh menunggu sampai narkoba benar-benar masuk ke dalam keluarga baru kemudian mencari jalan keluar.

Pencegahan harus dimulai jauh sebelumnya.

Keluarga merupakan lingkungan pertama bagi seorang anak. Di sanalah seorang anak mendapatkan perhatian, pendidikan, kasih sayang, sekaligus pembentukan karakter.

Karena itu, orang tua perlu membangun komunikasi yang baik dengan anak. Anak harus memiliki ruang untuk bercerita tentang persoalan yang mereka hadapi, termasuk persoalan dalam pergaulan dan lingkungan pertemanan.

Perhatian terhadap perubahan perilaku anak juga penting. Bukan untuk mencurigai setiap tindakan anak, tetapi sebagai bentuk kepedulian dan pendampingan.

Baca Juga:  Prof. Dr. Sutan Nsomal: Presiden RI Perlu Mewaspada Penguatan Dolar AS

Saya melihat, komunikasi dalam keluarga sering kali menjadi hal sederhana yang justru memiliki arti besar.

Ketika seorang anak merasa didengar dan diperhatikan, ia memiliki tempat untuk mencari pertolongan ketika menghadapi persoalan.

Narkoba Bukan Hanya Masalah Pengguna

Kita juga harus memahami bahwa dampak narkoba tidak berhenti pada orang yang menggunakannya.

Ketika seseorang terjerat narkoba, keluarganya ikut menghadapi dampak.

Orang tua dapat merasakan kesedihan ketika melihat anaknya kehilangan arah. Suami atau istri dapat menghadapi persoalan dalam rumah tangga. Anak-anak juga dapat merasakan perubahan kehidupan akibat salah satu anggota keluarganya terjerat narkoba.

Artinya, narkoba dapat meninggalkan persoalan yang panjang.

Karena itu, menurut saya, membicarakan narkoba hanya dari sisi hukum belum cukup.

Penegakan hukum tetap penting, tetapi pencegahan juga harus mendapatkan perhatian yang serius.

Masyarakat Jangan Menutup Mata

Ada satu hal lain yang menurut saya tidak kalah penting, yaitu kepedulian masyarakat.

Jangan sampai kita berpikir bahwa narkoba adalah masalah keluarga lain.

Hari ini mungkin bukan keluarga kita. Tetapi jika lingkungan dibiarkan tanpa kepedulian, persoalan tersebut dapat semakin dekat dengan siapa saja.

Masyarakat dapat mengambil peran melalui kepedulian terhadap lingkungan. Pendidikan dan komunikasi tentang bahaya narkoba juga perlu terus dilakukan, terutama kepada generasi muda.

Kita tidak harus menunggu terjadinya sebuah kasus besar untuk kemudian berbicara tentang bahaya narkoba.

Justru sebelum itu terjadi, kita harus sudah berbicara.

Media Juga Memiliki Tanggung Jawab

Sebagai pimpinan redaksi dan pemilik Sentral Media, saya berpandangan bahwa media tidak hanya mempunyai tugas menyampaikan informasi.

Media juga memiliki ruang untuk memberikan edukasi kepada masyarakat.

Pemberitaan mengenai narkoba seharusnya tidak berhenti pada siapa yang ditangkap dan berapa banyak barang bukti yang ditemukan. Masyarakat juga perlu mendapatkan informasi tentang bahaya narkoba, pentingnya pencegahan, serta peran keluarga dalam menjaga generasi muda.

Baca Juga:  Kesenjangan Pendidikan di Nusa Tenggara Timur

Media harus ikut membangun kesadaran.

Bukan dengan menakut-nakuti masyarakat, tetapi dengan menghadirkan informasi yang dapat membuka kesadaran bahwa pencegahan merupakan tanggung jawab bersama.

Menjaga Generasi Muda Adalah Tanggung Jawab Kita

Saya melihat seruan Tousi sebagai sebuah pengingat bahwa perang terhadap narkoba membutuhkan keterlibatan banyak pihak.

Aparat memiliki tugas dalam penegakan hukum. Lembaga terkait memiliki peran dalam pencegahan dan edukasi. Keluarga mempunyai tanggung jawab memberikan perhatian kepada anak. Masyarakat memiliki peran menjaga lingkungan.

Media juga memiliki tanggung jawab untuk terus menyampaikan informasi yang membangun kesadaran publik.

Semua memiliki ruang untuk berbuat.

Jangan sampai kita baru bergerak setelah seorang anak kehilangan masa depannya karena narkoba.

Lebih baik kita menjaga sebelum terjadi.

Lebih baik kita berbicara sebelum terlambat.

Dan lebih baik kita membangun kepedulian bersama daripada membiarkan keluarga menghadapi persoalan seorang diri.

Bagi saya, perang melawan narkoba bukan hanya tentang siapa yang ditangkap dan dihukum.

Perang melawan narkoba adalah tentang menyelamatkan masa depan generasi muda.

Karena itu, pesan Tousi agar masyarakat tidak menunggu narkoba mengetuk pintu rumah patut menjadi bahan renungan bersama.

Jangan tunggu pintu itu terbuka. Mari kita jaga generasi muda sejak dari rumah, dari lingkungan, dan dari kepedulian kita bersama.

Sadarudin P.M.
Pimpinan Redaksi dan Pemilik Sentral Media

SHARE:

Advertisement

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

spot_img

BERITA TERBARU

spot_img
spot_img

ARTIKEL POPULER