spot_img

Gempa Dunia Hari Ini: M6,3 Guncang Alaska

Sejumlah gempa berkekuatan M5,0 ke atas tercatat di Alaska, Tiongkok, Sulawesi, Vanuatu, Chile, dan sejumlah wilayah lainnya dalam 24 jam terakhir

SENTRAL MEDIA – Aktivitas gempa bumi kembali terjadi di sejumlah wilayah dunia dalam 24 jam terakhir. Sejumlah gempa dengan kekuatan magnitudo 5,0 atau lebih tercatat di kawasan Alaska, Tiongkok, Sulawesi, Vanuatu, Chile, hingga wilayah lainnya.

Gempa paling kuat dalam rangkaian aktivitas tersebut mencapai magnitudo 6,3 di kawasan selatan-barat daya Nikolski, Alaska. Selain itu, gempa bermagnitudo 5,4 juga mengguncang wilayah Jiangyou, Sichuan, Tiongkok.

Data pemantauan gempa dari United States Geological Survey (USGS) menunjukkan aktivitas seismik masih berlangsung di sejumlah kawasan yang berada pada jalur tektonik aktif.

Gempa M6,3 Guncang Alaska

Gempa terbesar tercatat di sekitar Kepulauan Aleut, Alaska. USGS mencatat gempa tersebut memiliki kekuatan M6,3 dan terjadi pada 3 September 2026 pukul 11.17 UTC.

Pusat gempa berada sekitar 84 kilometer di selatan-barat daya Nikolski, Alaska, dengan kedalaman sekitar 35 kilometer. Data tersebut menempatkan gempa di wilayah yang memiliki aktivitas tektonik tinggi.

Setelah gempa utama, kawasan sekitar Alaska juga kembali mencatat beberapa gempa dengan kekuatan di atas M5.

Pada 4 September 2026, USGS mencatat gempa M5,5 sekitar 100 kilometer di selatan Nikolski dengan kedalaman sekitar 10 kilometer. Gempa tersebut terjadi pada 03.21 UTC.

Beberapa jam sebelumnya, gempa M5,3 juga tercatat sekitar 93 kilometer di selatan-barat daya Nikolski dengan kedalaman sekitar 9,5 kilometer. USGS menyebut gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.

Rangkaian gempa tersebut menunjukkan bahwa aktivitas seismik di kawasan Alaska masih berlangsung. Namun, informasi mengenai dampak terhadap penduduk dan kerusakan bangunan tetap membutuhkan konfirmasi dari otoritas setempat.

Gempa M5,4 Guncang Tiongkok

Selain Alaska, gempa kuat juga mengguncang wilayah Tiongkok.

USGS mencatat gempa M5,4 terjadi sekitar 21 kilometer barat-barat laut Jiangyou, Provinsi Sichuan, pada 3 September 2026 pukul 11.39 UTC.

Baca Juga:  Nepal Banjir Bandang, Lebih dari 1.200 Orang Tewas

Gempa tersebut memiliki kedalaman sekitar 10 kilometer. Kedalaman yang relatif dangkal membuat getaran dapat terasa lebih kuat di wilayah sekitar episentrum.

Data yang dikutip dari USGS juga mencatat tingkat guncangan hingga intensitas VI dalam skala Modified Mercalli di sejumlah lokasi yang terdampak getaran.

Hingga laporan ini disusun, belum ada informasi terverifikasi yang menunjukkan jumlah korban atau kerusakan besar akibat gempa tersebut.

Karena itu, informasi mengenai dampak gempa masih perlu menunggu laporan resmi dari pemerintah daerah dan lembaga terkait di Tiongkok.

Sejumlah Gempa M5+ Terjadi di Kawasan Lain

Aktivitas gempa tidak hanya terjadi di Alaska dan Tiongkok. Dalam periode pemantauan yang sama, sejumlah wilayah lain juga mengalami gempa dengan magnitudo 5,0 atau lebih.

Kawasan Minahassa Peninsula di Sulawesi tercatat mengalami gempa M5,1. Gempa tersebut memiliki kedalaman sekitar 109 kilometer.

Gempa M5,2 juga tercatat di sekitar Vanuatu dengan kedalaman sekitar 110 kilometer. Sementara itu, kawasan dekat pantai tengah Chile mencatat gempa M5,0 dengan kedalaman sekitar 90 kilometer.

Aktivitas lain juga tercatat di kawasan Owen Fracture Zone dengan kekuatan M5,2 serta Qinghai, Tiongkok, dengan kekuatan M5,2.

Sementara itu, wilayah Kepulauan Aleut di Alaska mengalami beberapa gempa M5+ dalam rentang waktu yang berdekatan. Kondisi tersebut membuat kawasan tersebut menjadi salah satu pusat aktivitas seismik paling menonjol dalam periode 24 jam terakhir.

USGS Terus Memantau Aktivitas Gempa

USGS melalui Earthquake Hazards Program terus memantau aktivitas gempa bumi di berbagai wilayah dunia. Sistem pemantauan tersebut menyediakan data gempa terbaru berdasarkan waktu, kekuatan, lokasi, dan kedalaman.

USGS juga menyediakan katalog gempa yang memungkinkan publik melihat perkembangan aktivitas seismik dalam rentang waktu tertentu.

Baca Juga:  Akses Jalan Ciater Serpong Longsor, Kendaraan Berat Dialihkan

Namun, data gempa dapat mengalami pembaruan. Magnitudo, lokasi episentrum, kedalaman, maupun parameter lain dapat berubah setelah lembaga seismologi melakukan analisis lebih lanjut.

Karena itu, angka awal dalam laporan gempa sebaiknya dipahami sebagai data sementara sampai lembaga terkait mengeluarkan hasil pemutakhiran.

Belum Ada Laporan Dampak Besar Secara Global

Rangkaian gempa M5,0 ke atas tersebut menunjukkan tingginya aktivitas seismik di sejumlah kawasan dunia. Meski demikian, kekuatan gempa tidak otomatis menunjukkan besarnya dampak.

Faktor lain seperti kedalaman, jarak dari permukiman, kondisi tanah, kualitas bangunan, dan kepadatan penduduk turut menentukan tingkat kerusakan.

Untuk gempa M6,3 di Alaska, laporan pemantauan USGS menjadi rujukan utama mengenai lokasi dan parameter gempa. Sementara itu, gempa M5,4 di Sichuan juga telah tercatat dalam sistem pemantauan USGS.

Sentral Media terus memantau perkembangan aktivitas gempa tersebut. Informasi mengenai korban, kerusakan bangunan, maupun peringatan tsunami akan diperbarui berdasarkan keterangan resmi dari lembaga berwenang.

Sentralmedia.id

SHARE:

Advertisement

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

spot_img

BERITA TERBARU

spot_img
spot_img

ARTIKEL POPULER