spot_img

Pengangguran Sarjana Membengkak, Prof Sutan Nasomal Desak Pemerintah Bertindak

Prof. Dr. Sutan Nasomal menyoroti meningkatnya pengangguran sarjana dan sulitnya lapangan kerja di Indonesia

JAKARTA, Sentral Media – Indonesia terus melahirkan lulusan perguruan tinggi dari berbagai disiplin ilmu. Namun, di sisi lain, semakin banyak sarjana justru menghadapi sulitnya mendapatkan pekerjaan, Sabtu(29/8/2026).

Persoalan ini kembali menjadi sorotan Prof. Dr. Sutan Nasomal, SH., MH., Pakar Hukum Internasional sekaligus Ekonom. Ia menilai pemerintah perlu mengambil langkah konkret untuk menghadapi meningkatnya jumlah sarjana yang menganggur dari Sabang hingga Merauke.

Menurutnya, Presiden RI Prabowo Subianto hanya perlu memberikan satu perintah kepada kementerian terkait.

“Cukup satu kata Presiden, perintahkan kementerian mendata lalu membantu penyaluran ke berbagai perusahaan maupun BUMN dan bahkan ditempatkan di semua Kementerian yang ada di negara NKRI sesuai dengan klasifikasi masing-masing Sarjana pengangguran ini,” jelas Prof. Dr. Sutan Nasomal.

Prof. Sutan Nasomal menyampaikan pernyataan tersebut saat menjawab pertanyaan sejumlah pemimpin redaksi media cetak dan online dalam dan luar negeri mengenai meningkatnya jumlah sarjana pengangguran di berbagai daerah.

Ia menyampaikan pandangannya melalui telepon seluler dari Kantor Pusat Markas Partai Oposisi Merdeka di kawasan Cijantung, Jakarta, pada 28 Agustus 2026.

Sarjana Menganggur di Tengah Sulitnya Lapangan Kerja

Prof. Sutan Nasomal menilai kondisi ekonomi Indonesia yang belum membaik selama hampir dua tahun masa Presiden Prabowo Subianto memimpin NKRI menjadi perhatian masyarakat luas.

Menurutnya, masyarakat kini terus menagih jawaban atas satu pertanyaan besar:

Kapan Indonesia membaik?

Pertanyaan tersebut semakin penting ketika banyak sarjana kesulitan memperoleh pekerjaan. Pada saat yang sama, badai PHK turut mempersempit kesempatan kerja.

Kondisi itu menjadi catatan khusus bagi para pendidik tingkat tinggi. Para lulusan perguruan tinggi membutuhkan ruang untuk menerapkan ilmu dan kemampuan yang mereka miliki.

Namun, lapangan kerja yang tersedia belum mampu menjawab seluruh kebutuhan tersebut.

Perusahaan dan Pabrik Pindah, Lapangan Kerja Makin Sulit

Prof. Sutan Nasomal juga menyoroti migrasinya perusahaan-perusahaan dan pabrik dari Indonesia ke negara lain.

Baca Juga:  KPK Berencana Tahan Dua Tersangka Kasus Korupsi Kuota Haji

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu pangkal persoalan yang harus pemerintah kupas secara serius.

Ketika perusahaan dan industri berpindah ke negara lain, Indonesia menghadapi tantangan dalam mempertahankan lapangan pekerjaan. Pada saat yang sama, jumlah lulusan perguruan tinggi terus membutuhkan ruang untuk bekerja dan berkembang.

Karena itu, pemerintah perlu melihat persoalan tersebut secara menyeluruh.

Persoalannya bukan hanya tentang banyaknya sarjana yang mencari pekerjaan. Pemerintah juga perlu menciptakan iklim yang mendorong perusahaan dan investor membangun usaha di dalam negeri.

Prof Sutan Nasomal Desak Prabowo Tarik Industri

Prof. Dr. Sutan Nasomal menilai Presiden RI Prabowo Subianto memiliki tugas besar untuk mendorong para pengusaha besar dan perusahaan dunia membangun industri di Indonesia.

Menurutnya, kehadiran industri dapat membuka lapangan pekerjaan dan menyerap tenaga kerja, termasuk para sarjana.

“Menjadi tugas besar Presiden RI Prabowo Subianto menurut Prof DR Sutan Nasomal SH,MH agar para pengusaha besar perusahaan dunia agar mau membangun perusahaan industri di NKRI. Sehingga para Sarjana bisa terserap menjadi tenaga kerja handal,” ujarnya.

Langkah tersebut, menurutnya, membutuhkan pembenahan sistem dan mekanisme ekonomi di Indonesia.

Ia bahkan memperkirakan kondisi sulit di Indonesia bisa membutuhkan waktu hingga 20 tahun untuk selesai.

“Kondisi sulit di Indonesia bisa 20 tahun baru selesai dengan catatan besar sistem dan mekanisme yang tidak sehat di Indonesia harus di matikan,” katanya.

“Tidak Mungkin Pohon Padi Ditanam di Gurun”

Prof. Sutan Nasomal kemudian menggunakan perumpamaan yang disebutnya berasal dari sesepuh Nusantara pada masa lalu.

“Tidak mungkin pohon padi ditanam di atas gurun yang tandus dan keras seperti batu.”

Menurutnya, perumpamaan tersebut menggambarkan pentingnya menciptakan sistem dan mekanisme yang sehat.

Ia menilai sistem dan mekanisme yang berlaku saat ini telah merusak kepercayaan pengusaha dunia untuk membawa uang dan menanamkan modalnya di Indonesia.

Baca Juga:  Prof Sutan Nasomal Soroti Gedung Juang 45

Karena itu, pemerintah perlu membenahi kondisi tersebut agar dunia usaha kembali memiliki kepercayaan untuk membangun perusahaan di Indonesia.

Sarjana Jangan Hanya Menunggu Lowongan

Prof. Sutan Nasomal tidak hanya meminta pemerintah bergerak.

Ia juga mengajak para sarjana Indonesia mengubah pola pikir. Menurutnya, sarjana tidak seharusnya hanya menunggu perusahaan membuka lowongan pekerjaan.

Para sarjana, kata dia, harus mampu mandiri, berkarya, mendirikan perusahaan, sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan baru.

“Bukan menjadi pencari lapangan pekerjaan dan jadi BABU di kantor orang dengan upah rendah dan jauh dari kesejahteraan,” tegasnya.

Menurut Prof. Sutan Nasomal, para sarjana Indonesia memiliki kecerdasan yang dapat mereka gunakan untuk membangun dunia usaha.

Karena itu, ia mendorong para sarjana bekerja sama membangun usaha mandiri yang bersifat padat karya.

Para sarjana juga dapat membentuk kelompok kerja di setiap wilayah dan mendirikan wadah baru dalam berbagai bidang.

Pertanian, Industri Mesin hingga IT

Prof. Sutan Nasomal melihat peluang usaha di sejumlah bidang, termasuk pertanian, industri mesin dan teknologi informasi atau IT.

Ia mendorong para sarjana mengembangkan kemampuan mereka untuk menciptakan lapangan usaha lokal dan nasional.

“Para sarjana pasti paham agar masing-masing menggeluti menciptakan lapangan usaha lokal dan nasional. Menciptakan lapangan usaha di jaringan pasar Indonesia dan International,” ujarnya.

Menurutnya, para sarjana juga perlu melihat pasar yang lebih luas. Mereka dapat mengembangkan jaringan usaha dari tingkat lokal hingga pasar nasional dan internasional.

Prof. Sutan Nasomal menggambarkan peluang pertanian, industri mesin dan IT seperti tubuh manusia yang memiliki jiwa dan ruh.

Menurutnya, setiap sarjana dapat memilih bidang yang sesuai dengan kemampuan masing-masing lalu mengembangkannya menjadi usaha yang produktif.

Pesan untuk Sarjana Indonesia

Prof. Sutan Nasomal kemudian menyampaikan pesan kepada para sarjana agar tidak terus menunggu bantuan atau belas kasihan pihak lain.

“Para Sarjana dengarlah nasehat ini: Jangan menunggu hujan dari langit dan air di tempayan di buang sia sia.”

Baca Juga:  Dampak Rupiah Melemah, Prof. Sutan Nasomal Minta Presiden Prabowo Soroti Kesejahteraan Petani Sragen

Ia meminta para sarjana memanfaatkan kemampuan yang mereka miliki untuk membangun kemandirian.

“Jangan menunggu belaskasihan orang lain untuk belajar berdiri padahal sangat mampu berdiri dan berlari dengan mandiri. Semua perlu proses. Maka ciptakan kelompok karya kerja sarjana Indonesia.”

Menurutnya, para sarjana dapat membangun jaringan kerja dan karya secara bersama-sama.

Kelompok tersebut dapat mengembangkan usaha sesuai kemampuan, potensi daerah dan bidang keilmuan masing-masing.

Pemerintah Didesak Bergerak, Sarjana Diminta Berkarya

Pernyataan Prof. Sutan Nasomal menunjukkan bahwa persoalan pengangguran sarjana membutuhkan dua arah penyelesaian.

Pemerintah perlu membangun sistem yang sehat, menarik investasi, mendorong industri masuk ke Indonesia dan membuka lapangan kerja.

Sementara itu, para sarjana perlu mengembangkan kemampuan mereka agar tidak hanya bergantung pada lowongan pekerjaan yang tersedia.

Dengan langkah tersebut, sarjana tidak hanya menjadi pencari kerja. Mereka juga dapat menjadi pencipta pekerjaan.

Pada akhirnya, persoalan ini kembali mengarah pada pertanyaan yang terus muncul di tengah masyarakat:

Kapan Indonesia membaik dan kapan para sarjana benar-benar mendapatkan ruang untuk bekerja sesuai kemampuan mereka?

Prof. Sutan Nasomal mendorong para sarjana membentuk jaringan kerja dan karya untuk membangun usaha.

“Bentuklah jaringan kerja karya kelompok untuk berkarya dan membangun usaha.”

Ia juga membuka ruang komunikasi bagi para sarjana yang menghadapi kendala dan membutuhkan masukan berdasarkan pengalaman serta ilmu yang dimilikinya.

Narasumber: Prof. DR. Sutan Nasomal, SH., MH., Pakar Hukum Internasional, Ekonom, Presiden Partai Oposisi Merdeka, Jenderal Kompii, Pendiri/Pengasuh Ponpes ASS SAQWA PLUS, Rektor Univ. STIA STIH Pronass, serta Ketua Umum Perkumpulan Advokat Muda Indonesia Association of Young Indonesian Advocates.

Editor : Sentralmedia.id

SHARE:

Advertisement

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

spot_img

BERITA TERBARU

spot_img
spot_img

ARTIKEL POPULER