Nagekeo,Sentralmedia.id – Pembukaan kegiatan Jelajah Kampung Adat oleh Penjabat Sekda Nagekeo, Drs. Immanuel Ndun, dalam rangka Festival One Be Nagekeo 2025 menjadi peristiwa penting, bukan hanya karena seremoninya, tapi karena maknanya, Nagekeo sedang berusaha menemukan cara terbaik untuk memadukan identitas budaya dan kesejahteraan ekonomi.
Di tengah arus globalisasi yang begitu deras, langkah ini seolah menjadi bentuk perlawanan halus bahwa budaya lokal tidak sekadar untuk dipamerkan, tetapi juga untuk dihidupkan kembali melalui aktivitas ekonomi rakyat.
Namun di sinilah letak tantangannya, bagaimana pariwisata tidak sekadar menjual “keindahan”, tetapi juga menjaga kehormatan nilai dan makna di balik rumah adat, ritual, dan kehidupan sosial masyarakat kampung.
Pj. Sekda dengan jernih menekankan bahwa pariwisata adalah motor penggerak ekonomi lokal. Pernyataan beliau “uang dari turis-turis itu akan tercecer di seluruh kantong-kantong masyarakat” menggambarkan harapan akan efek ekonomi yang merata. Dan benar, sektor pariwisata memang memiliki daya dobrak luar biasa dalam menciptakan perputaran uang di desa: dari ojek, pedagang kecil, hingga pengrajin kain dan kuliner tradisional.
Namun, dari perspektif pribadi, saya melihat bahwa pariwisata juga cermin dari kualitas tata kelola daerah. Keindahan alam dan budaya tidak cukup jika tidak ditopang oleh infrastruktur, kebersihan, dan kapasitas masyarakat untuk mengelola wisata.
Jelajah Kampung Adat akan kehilangan makna jika para wisatawan pulang dengan kesan bahwa kampung-kampung itu hanya “panggung sementara” tanpa upaya nyata untuk menjaga kelestariannya.
Menarik bahwa para peserta Jelajah Kampung Adat disebut sebagai Duta Wisata Kabupaten Nagekeo. Ini langkah cerdas. Generasi muda yang melek teknologi memiliki peran besar dalam memperkenalkan wajah budaya Nagekeo ke dunia digital.
Namun saya juga ingin menggarisbawahi: promosi budaya di media sosial bukan sekadar estetika visual, tetapi juga edukasi naratif. Foto rumah adat yang indah di Instagram hanya akan menjadi konsumsi visual sesaat jika tidak disertai cerita tentang makna di baliknya tentang arsitektur, simbol, dan filosofi yang diwariskan leluhur.
Sebagai penulis dan pemerhati budaya, saya percaya bahwa peran “duta wisata” seharusnya tidak berhenti di konten promosi. Mereka juga perlu menjadi jembatan pemahaman bahwa budaya bukan sekadar daya tarik wisata, melainkan identitas hidup yang perlu dihormati, dipahami, dan dijaga bersama.
Jika benar pariwisata mampu menggerakkan ekonomi, maka pertanyaan lanjutannya adalah: siapa yang paling diuntungkan? Apakah masyarakat kampung adat akan menerima manfaat langsung, atau justru para pelaku ekonomi di kota yang lebih dominan? Inilah titik kritis dalam diskursus pembangunan pariwisata lokal.
Tanpa regulasi dan pendampingan yang baik, potensi budaya bisa berubah menjadi komoditas yang menguntungkan pihak luar, sementara masyarakat adat hanya menjadi “penjaga panggung.”
Saya berpendapat, arah pembangunan wisata budaya harus berbasis model ekonomi partisipatif, di mana masyarakat adat bukan hanya objek, tetapi subjek utama yang mengatur ritme kegiatan dan pembagian hasilnya. Hanya dengan cara ini, pariwisata bisa benar-benar menjadi “motor penggerak ekonomi lokal” seperti yang diharapkan Pj. Sekda.
Pesan terakhir dari Pj. Sekda kepada peserta agar menjaga ketertiban, keamanan, dan kebersamaan selama kegiatan sebenarnya mengandung makna lebih dalam: bahwa jelajah budaya bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan moral.
Ketika para peserta menyapa masyarakat di kampung adat, mereka tidak hanya melihat rumah batu dan anyaman bambu, tetapi juga melihat cara hidup yang lahir dari kearifan.
Sebagai penulis yang percaya pada kekuatan budaya lokal, saya merasa bahwa kegiatan seperti ini harus berlanjut dan diperluas. Namun saya juga berharap agar pemerintah tidak berhenti di tahap festival dan seremoni.
Perlu ada keberlanjutan misalnya pelatihan pengelolaan wisata berbasis masyarakat, digitalisasi arsip budaya, dan penguatan kapasitas pemuda adat sebagai pemandu wisata yang kompeten.
Festival One Be Nagekeo 2025 bukan sekadar perjalanan ke kampung adat, tetapi perjalanan menuju pemahaman siapa kita sebenarnya sebagai orang Nagekeo. Budaya bukanlah barang pameran, melainkan warisan yang bernapas di antara batu, kayu, dan cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Dan ketika pariwisata dijalankan dengan kesadaran seperti itu dengan hati yang menghargai, bukan hanya kamera yang merekam maka setiap langkah di kampung adat bukan sekadar wisata, melainkan tindakan merawat jati diri.

