More
    spot_img

    Amerika Panik, Datangi China Usai Iran Menang Perang

    Prof Sutan Nasomal menyebut Kedatangan Presiden Amerika Serikat ke China dinilai dapat dimaklumi karena kekalahan Amerika dalam perang.

    Jakarta, Sentralmedia.id – Amerika Serikat sebuah negara adidaya terlihat kepanikan dan berupaya menjalin hubungan bisnis dengan negara sahabatnya, China, usai Iran menang perang.

    Kedatangan Presiden Amerika Serikat ke China dinilai dapat dimaklumi karena kekalahan Amerika dalam perang bukan lagi menjadi rahasia umum.

    Hal ini di sampaikan  oleh Sutan Nasomal, pakar hukum internasional, ekonom nasional, sekaligus Presiden Partai Koalisi Rakyat Indonesia, saat diwawancarai melalui sambungan telepon seluler di kantornya.

    Menurutnya , Negara Adidaya Panik mencari suaka jalinan bisnis ke negara solmetnya yaitu melalui sisen, dalam situasi seperti beginilah disebut Kondisi kedatangan Presiden Amerika ke China bisa di maklumi karena kisah Amerika kalah perang bukan rahasia lagi. Kemarahan Negara Amerika di sampaikan Presiden Amerika merayu china agar membuka catatan baru berdagang serta saling menurunkan pajak atau membuka kemudahan kedua Negara tersebut bisa memulai dagang.

    Tidak heran Amerika harus datang ke China agar bisa merayu sahabatnya IRAN untuk lebih lunak dan membuka selat HORMUS sehingga kembali aman di lintasi oleh kapal negara manapun.

    Selama beberapa dekade, Amerika Serikat dikenal sebagai negara adidaya. Namun, kemenangan Iran dalam perang pada tahun 2026 dianggap telah mengurangi citra tersebut. Presiden Amerika Serikat disebut sangat membutuhkan dukungan China guna membangun hubungan bilateral yang saling menguntungkan, khususnya dalam bidang perdagangan melalui berbagai kemudahan kerja sama antarnegara.

    “Hal ini memang terlihat menarik, tetapi begitulah dinamika kehidupan dunia saat ini,” ujar Sutan Nasomal, pakar hukum internasional, ekonom nasional, sekaligus Presiden Partai Koalisi Rakyat Indonesia, saat diwawancarai melalui sambungan telepon seluler di kantornya di kawasan Cijantung, Jakarta, pada 22 Mei 2026 oleh sejumlah pemimpin redaksi media cetak dan media daring dalam maupun luar negeri.

    Baca Juga:  Gresik Phonska Comeback,Tumbangkan Popsivo 3-1 Menuju Final

    Kehebatan militer AMERIKA hanya kisah dongeng bagi IRAN karena sudah berjalan beberapa bulan AMERIKA bersama ISRAEL gagal melumpuhkan kekuatan militer IRAN.

    Menurutnya, kehebatan militer Amerika Serikat hanyalah cerita bagi Iran karena selama beberapa bulan terakhir Amerika bersama Israel dinilai gagal melumpuhkan kekuatan militer Iran.

    Menuju Akhir Tahun 2026, Apa yang Akan Terjadi?

    Prof Dr Sutan Nasomal SH,MH melihat bisik bisik halus antara IRAN CHINA RUSIA dan KOREA agar melumpuhkan kekuatan militer Amerika Israel sampai tak mampu lagi perang. Tetapi tak bisa di pungkiri agar perang ini bisa disingkatkan dengan memulai perang NUKLIR baik sekala menengah atau sekala besar agar Amerika Israel menjerit dalam kehancuran dalam kekalahan.

    Korban perang yang terlibat telah mencapai ribuan di pihak IRAN LEBANON dan YAMAN begitu juga di pihak Amerika dan Israel.

    Belanja biaya perang sampai mei 2026 diperkirakan telah menghabiskan biaya Trilyunan dengan kerugian kehancuran Ribuan Trilyun.

    Negara Negara Tim-Teng telah salah membaca kemampuan IRAN mengatur kekuatan militernya tetap tangguh melawan Amerika dan Israel sehingga menjadi ancaman besar serta ketakutan banyak para orang kaya presiden dan raja raja di Tim-Teng.

    Keputusan akhir untuk menguasai SDA minyak gas dll di Tim-Teng kemungkinan besar Amerika harus mengalahkan China dalam perang baru di lautan pacifik dan Rusia perang melawan Ukrarina serta eropa. Prof Sutan Nasomal memperkirakan ini adalah keputusan terburuk yang di ambil Amerika serta Israel.

    Situasi konflik bersekala besar bisa tercipta di banyak negara Asia akibat dampak ekonomi yang sakit parah.

    Banyak Negara yang tidak mampu mempertahankan Negaranya karena mahalnya harga minyak dan energi. Kenaikan harga barang kebutuhan masyarakat menjadi api revolusi yang tidak sengaja di picu oleh tidak pekanya para Presiden di negara ke dua atau ke tiga.

    Baca Juga:  Oknum Guru di New Jersey Diduga Lakukan Pelecehan Seksual

    Prof Sutan Nasomal menyampaikan kepada media Prahara terjadi dimana mana secara cepat, dalam beberapa waktu menjawab akan kemana arah terciptanya kedamaian baru, negara negara dengan sistem atau aturan baru serta dibuangnya sistem dan aturan lama. Kejayaan ilmu dan pemahaman di masalalu kembali digunakan untuk membentuk keseimbangan kehidupan sosial hukum politik atau mendirikan jalur yang lebih kuat di semua pemegang kendali.

    Narasumber : Prof Dr Sutan Nasomal SH,MH Pakar Hukum Internasional, Ekonom Presiden Partai Koalisi Rakyat Indonesia Ketua Umum Perkumpulan Advokat Muda Indonesia Call Center 087719021960.

     

    SHARE:

    Advertisement

    BERITA TERKAIT

    REKOMENDASI

    spot_img

    BERITA TERBARU

    spot_img
    spot_img

    ARTIKEL POPULER