Nadekeo, Sentral Media – Di bawah terik matahari yang menyengat, seorang remaja tampak berjalan tanpa alas kaki sambil memikul anakan pisang di pundaknya. Dengan tangan kirinya, ia menggandeng sang adik yang masih duduk di bangku sekolah dasar menuju ladang milik keluarganya.
Remaja itu bernama Konstantinus Vox Nguza atau akrab disapa Vox. Ia merupakan siswa SMKN 1 Nangaroro, Kabupaten Nagekeo. Penampilannya yang sederhana menyimpan kisah perjuangan dan pengorbanan yang menggetarkan hati.
Pelajar SMK yang Memikul Harapan Keluarga
Vox mengaku sangat memahami kondisi ekonomi keluarganya yang sedang mengalami kesulitan. Ayahnya saat ini merantau ke Kalimantan untuk mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan keluarga yang ditinggalkan di kampung halaman.
Sementara itu, ibunya mengurus rumah tangga dan adiknya yang masih duduk di bangku kelas V sekolah dasar. Sebagai anak sulung, Vox memilih membantu orang tuanya dengan bekerja di ladang setiap kali memiliki waktu luang.
“Saya kasihan melihat bapak yang harus merantau jauh hanya untuk menafkahi kami. Setiap hari Sabtu saya pulang dari sekolah untuk membantu pekerjaan di ladang. Kadang saya juga terpaksa tidak masuk sekolah demi membantu keluarga,” tuturnya.
Bagi Vox, membantu keluarga bukanlah sebuah beban, melainkan bentuk tanggung jawab yang harus ia jalani sejak usia muda.
Rela Mengubur Cita-cita Demi Sang Adik
Di balik senyumnya yang sederhana, Vox menyimpan cita-cita besar yang kini harus ia pendam. Dengan mata yang berkaca-kaca, ia mengaku tidak lagi memikirkan masa depannya sendiri.
“Ada cita-cita, Om. Tetapi saya rasa sudah tidak mungkin tercapai karena kondisi ekonomi keluarga kami seperti sekarang. Tidak apa-apa. Saya ingin membantu bapak mewujudkan cita-cita adik saya saja,” ujarnya.
Ia mengatakan bahwa dirinya dan sang adik memiliki impian yang sama. Namun, ia memilih mengalah dan mengubur cita-citanya demi memberikan kesempatan yang lebih baik bagi adiknya, Excel.
Mendengar pengakuan sang kakak, Excel yang berada di sampingnya hanya tersenyum malu dan memilih menghindar dari perhatian orang-orang di sekitarnya.
Pengorbanan seorang kakak yang rela menggantungkan impiannya pada sang adik menjadi gambaran nyata tentang arti kasih dan tanggung jawab dalam sebuah keluarga sederhana di pelosok negeri.
Tidak Pernah Menerima Bantuan Pendidikan
Selain harus menghadapi keterbatasan ekonomi, Vox juga mengaku belum pernah menerima bantuan pendidikan dari pemerintah melalui Program Indonesia Pintar (PIP) maupun bantuan lainnya.
Menurut pengakuannya, hampir seluruh teman sekolahnya mendapatkan bantuan pendidikan. Namun, hingga saat ini namanya belum pernah tercantum sebagai penerima bantuan.
“Uang sekolah tahun lalu sudah lunas. Tetapi untuk tahun ini belum lunas. Saya juga tidak tahu kenapa hanya saya yang tidak mendapatkan bantuan seperti teman-teman yang lain,” katanya.
Informasi tersebut tentu menjadi perhatian tersendiri mengingat Vox merupakan siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu dan memiliki semangat tinggi untuk terus melanjutkan pendidikan.
Hingga berita ini ditulis, pihak sekolah belum memberikan keterangan resmi terkait informasi tersebut karena kepala sekolah belum dapat dihubungi.
Kisah Vox menjadi pengingat bahwa masih banyak anak Indonesia yang berjuang keras untuk mempertahankan pendidikan di tengah keterbatasan ekonomi. Di balik seragam sekolah yang sederhana, tersimpan mimpi besar dan pengorbanan yang tidak semua orang mampu memahaminya.
Bagi Vox, membantu keluarga adalah pilihan yang ia ambil dengan penuh keikhlasan. Ia mungkin memilih menunda cita-citanya, tetapi semangat dan ketulusannya telah menjadi pelajaran berharga tentang arti perjuangan dan kasih dalam kehidupan.
Redaksi/Editor : Sentralmedia.id





