Sentralmedia.co.id – Pendidikan sebagai langkah awal dalam membangun peradaban, Ibnu Muqaffa Sang pengarang kitab Kalilah wa Dimnah ini mengatakan bahwa,
“Pendidikan itu ialah yang kita butuhkan untuk mencapai peradaban yang tinggi “. peradaban bergantung pada kemajuan pendidikan, dan kunci dari kemajuan pendidikan adalah intelegensi dan karakter.
Kata Martin Luther, “Intelligence plus character that is the goalof true education”(Kecerdasan plus karakter itu adalah tujuan akhir dari pendidikan sebenarnya).
Maju mundurnya suatu peradaban tergantung pada pendidikan.Majunya pendidikan juga akan berdampak baik terhadap majunya pembangunan sebuah peradaban bangsa. Dalam konteks pembangunan, pendidikan menjadi salah satu faktor penting dalam penentu kemajuan sebuah bangsa, karena majunya sebuah bangsa ditentukan oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada.
Pendidikan tak terlepas dari pada peran guru sebagai instrumen pling penting mengelola sumberdaya manusia dalam membentuk kecerdasan dan karakter anak” bangsa.menjadi guru merupakan tanggungjawab besar bukan saja mengajarkan tapi juga mendidik agar terciptanya manusia yang adil dan makmur,
sama halnya seperti yang di katakan Ki Hajar Dewantara bapak pendidikan Indonesia, bahwa mendidik dan mengajar adalah proses memanusiakan manusia, sehingga harus memerdekakan manusia dan segala aspek kehidupan baik secara fisik maupun mental.Dalam perspektif hadist ,Pahala seorang guru terus mengalir walaupun dirinya telah meninggal,
Rasulullah SAW bersabda “Jika seorang insan meninggal maka terputuslah amalnya kecuali tiga amal; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang selalu mendo’akan.” H.R. At-Tarmidzi.
Ketika Hiroshima dan Nagasaki di lululantahkan, dunia melihat Jepang sebagai bangsa yang kacau balau, ekonomi lumpuh, dan rakyat hidup dalam trauma kolektif. Hingga parah cendikiawan memprediksi jepang akan bangkit kurang lebih 50 tahun Namun di tengah keputusasaan itu, muncul satu pertanyaan mengubah arah sejarah jepang:
“Berapa banyak guru yang masih tersisa?” Pertanyaan sederhana itu di ucapkan Kaisar Hirohito setelah menyerah tanpa syarat kepada Sekutu tahun 1945. Kaisar tidak menanyakan jumlah tentara, kapal perang, atau senjata yang tersisa.
Justru yang dicari adalah guru, kaisar paham betul untuk membangun kembali jepang sebagai bangsa yang besar harus merawat, mensejahterakan guru,kaisar mengganggap guru adalah pilar peradaban yang dianggap sebagai fondasi utama kebangkitan bangsa, Sejarah menunjukkan bahwa bangsa yang menghargai guru akan lebih cepat pulih dari trauma kolektif dan menjadi bangsa yang besar. ada ungkapan terkenal, historia magistra vitae “sejarah adalah guru kehidupan”.

