Yerusalem/Teheran,Sentralmedia.id – Militer Israel secara resmi merilis video pertama rekaman detik-detik serangan udara terhadap target militer di Iran, memperlihatkan pukulan terhadap ratusan lokasi di wilayah barat Iran selama eskalasi konflik terbaru di Timur Tengah yang melibatkan juga Amerika Serikat. Konflik ini telah memicu kecaman global, serangan balasan Iran, dan dorongan pertemuan darurat di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa‑Bangsa.
Video yang dipublikasikan oleh Israel Defense Forces (IDF) di platform X menunjukkan aksi serangan terhadap peluncur rudal dan target militer lainnya di Iran bagian barat sebagai bagian dari operasi yang disebut Operation Roaring Lion. Militer Israel menyatakan telah menghantam ratusan target militer, termasuk instalasi rudal yang diduga akan digunakan untuk menyerang wilayah Israel.
Dalam unggahan resminya, IDF menyebut, “Kami menghantam fasilitas-fasilitas yang menjadi ancaman langsung terhadap keamanan Israel dan mencegah potensi serangan yang lebih luas.”
Rekaman berdurasi singkat tersebut menggambarkan ledakan dan serangan presisi, meskipun kondisi di daratan Iran saat ini masih dalam zona informasional yang terbatas terkait dampaknya terhadap korban jiwa dan infrastruktur sipil.
Serangan Israel dilakukan bersamaan dengan operasi militer yang juga dilaporkan melibatkan pasukan Amerika Serikat. Menurut laporan, serangan bersama memukul situs militer, pertahanan udara, serta pusat komando dan kontrol. Aksi militer koalisi ini merupakan eskalasi terbaru setelah ketegangan panjang terkait program nuklir Iran, yang menjadi isu sensitif di antara negara-negara Barat dan Teheran.
Operasi ini tidak hanya terbatas pada serangan udara. Laporan media internasional menyebutkan bahwa serangan juga terjadi di darat dan laut, dengan penggunaan pesawat tempur, drone, serta sistem pertahanan canggih.
Dalam beberapa jam setelah video serangan dirilis, militer Iran meluncurkan serangan balasan termasuk rudal dan drone menuju wilayah Israel serta sejumlah pangkalan militer AS di kawasan teluk. Iran mengklaim telah menyerang “basis musuh” dan menimbulkan kerugian pada pasukan lawan, menyatakan bahwa langkah balasan itu adalah respons atas agresi terhadap wilayahnya.
Situasi tersebut memperlihatkan pertarungan lanjutan yang dapat berdampak terhadap stabilitas regional, pasar energi global, serta rute perdagangan internasional yang vital. Pasar minyak sempat mengalami lonjakan harga akibat kekhawatiran berlanjutnya konflik di kawasan penghasil energi utama dunia.
Konflik ini memicu keprihatinan global. Beberapa negara, termasuk Rusia dan China, menyerukan pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB guna meredakan ketegangan dan mencegah eskalasi perang lebih luas. Seruan tersebut juga diperkuat oleh kritik dari negara-negara Eropa dan Timur Tengah yang menyerukan de-eskalasi dan penyelesaian diplomatik.
Pasar global, organisasi kemanusiaan dan beberapa negara netral mendesak gencatan senjata guna menghindari lonjakan korban sipil dan krisis pengungsi baru di wilayah konflik.
Ketegangan antara Israel dan Iran telah berlangsung bertahun-tahun, menyentuh isu program nuklir, dukungan terhadap kelompok militan di wilayah Arab, serta rivalitas geopolitik luas di Timur Tengah. Konflik ini sempat meletus dalam perang intens 12 hari pada Juni 2025 lalu, saat Israel menargetkan fasilitas nuklir dan militer Iran sementara Teheran meluncurkan serangan rudal balistik ke wilayah Israel.
Para analis keamanan internasional memperingatkan bahwa eskalasi terbaru dapat membuka pintu bagi konflik regional yang lebih luas, memicu respons dari negara-negara sekutu Iran seperti Hizbullah di Lebanon, maupun reaksi pertahanan dari Saudi Arabia dan negara Teluk lainnya. Selain itu, konflik tersebut berpotensi memengaruhi keamanan transportasi laut di Selat Hormuz, jalur penting ekspor minyak dunia.
Rilisnya video serangan Israel terhadap Iran menjadi bukti pertama visual dari eskalasi militer besar-besaran di Timur Tengah yang melibatkan dua kekuatan regional utama dan dukungan militer negara adidaya. Dengan respons Iran yang cepat dan seruan internasional untuk de-eskalasi, dunia kini tengah menyaksikan fase kritis dalam hubungan geopolitik yang dapat membentuk stabilitas global dalam jangka panjang.
(Ered/Sentralmedia.id)





