More

    Tama Tuka Ine: Filsafat Kematian dalam Kosmologi Orang Ndora

    Kematian, dalam banyak kebudayaan, kerap dipahami sebagai garis batas yang tegas memisahkan yang hidup dari yang tak lagi bernyawa.

    Sentralmedia.id – Kematian, dalam banyak kebudayaan, kerap dipahami sebagai garis batas yang tegas memisahkan yang hidup dari yang tak lagi bernyawa. Namun, dalam kosmologi masyarakat Ndora, batas itu nyaris menghilang, larut dalam pemahaman yang lebih halus dan mendalam. Dunia fana dan dunia akhirat tidak berdiri sebagai dua wilayah yang saling berseberangan, melainkan sebagai dua lapisan realitas yang saling menembus, tanpa sekat yang benar-benar memisahkan.

    Di dalam kerangka pemikiran ini, roh tidak tunduk pada hukum ruang dan waktu. Ia bukan entitas yang bergerak dari satu titik ke titik lain dalam pengertian material, melainkan keberadaan yang senantiasa hadir dalam kesinambungan. Oleh sebab itu, kematian tidak dipahami sebagai perubahan hakikat, tidak pula sebagai peristiwa yang memutus keberadaan. Yang berubah hanyalah cara manusia memandangnya, cara memberi nama pada sebuah peralihan yang sunyi.

    Bagi orang Ndora, kematian adalah Tama sebuah “masuk,” sebuah kembali yang hening namun pasti. Ia bukan jatuh ke dalam ketiadaan, melainkan pulang ke suatu ruang yang telah lama dikenali, meski terlupakan selama hidup. Ruang itu adalah Tuka, yang dianalogikan sebagai rahim tempat asal yang murni, tak ternoda, dan penuh keheningan yang melindungi. Dalam metafora ini, kehidupan tidak lagi dipahami sebagai perjalanan linear menuju akhir, tetapi sebagai lingkaran yang perlahan menutup dirinya kembali ke titik mula.

    Ada kesedihan yang lembut dalam pemahaman ini: bahwa setiap kelahiran sesungguhnya telah mengandung bayang-bayang kepulangan. Namun kesedihan itu tidak getir, sebab yang menanti di ujung perjalanan bukanlah kehampaan, melainkan keakraban yang purba—sebuah kehadiran yang telah lebih dahulu ada sebelum segala yang ada.

    Ruang suci tempat kembalinya roh itu bukanlah kehampaan yang tak bertuan. Ia berada dalam lingkup kuasa suatu prinsip asal yang oleh masyarakat Ndora disebut Ine Induk, sumber dari segala yang hidup. Ine bukan sekadar pencipta dalam arti kausal, melainkan asal yang memeluk, yang darinya segala sesuatu muncul dan kepadanya segala sesuatu kembali. Dalam pengertian ini, kematian adalah gerak balik menuju pelukan asal, suatu rekonsiliasi kosmik antara yang tercipta dan yang menciptakan.

    Baca Juga:  Wamendagri Tegaskan Keberpihakan Kepada Pembangunan Desa

    Dengan demikian, konsep Tama Tuka Ine tidak hanya mengartikulasikan pandangan tentang kematian, tetapi juga menyimpan suatu filsafat eksistensi yang mendalam: bahwa hidup adalah jeda yang singkat di antara dua keheningan yang sama, dan bahwa setiap akhir, betapapun sunyinya, sesungguhnya adalah bentuk lain dari pulang.

     

    SHARE:

    BERITA TERKAIT

    REKOMENDASI

    BERITA TERBARU

    ARTIKEL POPULER