Teheran, Sentralmedia.id – Republik Islam Iran memasuki salah satu momen paling krusial dalam sejarah politik modernnya. Wafatnya Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei, membuka babak baru yang tidak hanya menentukan masa depan internal Iran, tetapi juga keseimbangan geopolitik Timur Tengah.
Pemerintah Iran bergerak cepat. Presiden Masoud Pezeshkian, Kepala Lembaga Yudisial Gholamhossein Mohseni Ejei, serta seorang ulama anggota Dewan Garda ditunjuk menjalankan fungsi kepemimpinan sementara sesuai ketentuan konstitusi.
Langkah ini dinilai sebagai upaya meredam potensi kekosongan kekuasaan di tengah tekanan internasional yang terus meningkat terhadap Teheran. Sesuai konstitusi, pengganti Khamenei akan dipilih oleh Majelis Ahli Kepemimpinan, lembaga beranggotakan 88 ulama yang secara formal dipilih rakyat setiap delapan tahun.
Namun dalam praktiknya, hanya kandidat yang lolos penyaringan ideologis ketat yang dapat menjadi anggota majelis tersebut. Karena itu, mayoritas komposisi saat ini didominasi kalangan konservatif yang selama ini menjadi penopang utama sistem Republik Islam.
Pada 1989, Khamenei dipilih menggantikan Ruhollah Khomeini hanya dalam hitungan jam setelah pendiri Republik Islam itu wafat. Proses cepat tersebut dirancang demi menjaga stabilitas negara.
Kini, tantangannya jauh lebih kompleks. Iran berada dalam tekanan sanksi ekonomi, konflik regional, dan ketegangan dengan Amerika Serikat serta Israel. Mengumpulkan seluruh anggota Majelis Ahli dalam situasi keamanan tinggi bukan perkara sederhana.
Kepala koresponden internasional BBC, Lyse Doucet, sebelumnya menilai bahwa elite Iran telah lama mempersiapkan skenario suksesi ini. “Transisi ini bukan peristiwa mendadak. Ini adalah proses yang telah dipikirkan bertahun-tahun oleh lingkaran kekuasaan Iran,” lapor Doucet dalam analisisnya.
Sementara itu, analis Timur Tengah di Carnegie Endowment for International Peace, Karim Sadjadpour, pernah menyebut bahwa suksesi Pemimpin Tertinggi adalah “momen paling berbahaya sekaligus paling menentukan dalam struktur politik Iran.”
“Pemimpin Tertinggi bukan hanya simbol. Ia adalah pusat gravitasi sistem. Ketika pusat itu berubah, seluruh orbit kekuasaan ikut bergeser,” tulisnya dalam salah satu kajiannya.
Pandangan senada juga disampaikan oleh pengamat Iran di Washington Institute, Mehdi Khalaji, yang menilai bahwa Garda Revolusi kemungkinan akan memainkan peran signifikan dalam proses penentuan figur pengganti.
“Majelis Ahli memang memilih, tetapi realitas politik Iran menunjukkan bahwa keseimbangan kekuatan keamanan sangat menentukan arah keputusan,” ujarnya dalam analisis terdahulu.
Pertanyaan besar kini mengemuka:
-
Apakah Iran akan tetap pada jalur konfrontatif terhadap Barat?
-
Apakah figur baru akan membuka ruang negosiasi terkait sanksi dan program nuklir?
-
Seberapa besar pengaruh Garda Revolusi dalam menentukan arah kebijakan luar negeri?
Presiden Masoud Pezeshkian dikenal memiliki citra lebih moderat dibandingkan kelompok garis keras. Namun kewenangan presiden tetap berada di bawah struktur Pemimpin Tertinggi.
Karena itu, siapa pun yang dipilih Majelis Ahli akan menjadi penentu arah strategis Iran ke depan, mulai dari kebijakan regional, hubungan dengan negara-negara Teluk, hingga posisi dalam konflik yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat.
Wafatnya Ayatollah Ali Khamenei bukan sekadar pergantian figur di pucuk kekuasaan. Ini adalah ujian terhadap stabilitas sistem Republik Islam itu sendiri.
Jika transisi berjalan mulus, Iran akan menunjukkan ketahanan institusionalnya. Namun jika terjadi friksi internal, dampaknya bisa meluas ke kawasan yang selama ini sudah berada dalam ketegangan tinggi.
Kini dunia menanti keputusan Majelis Ahli Kepemimpinan, keputusan yang bukan hanya menentukan satu nama, tetapi menentukan arah sejarah Iran berikutnya.
(Ered/sentralmedia.id)





