More

    Ketika Pendidikan dan Guru Tidak Lagi Dimuliakan

    Maka yang hancur bukan hanya pendidikan hari ini, tetapi juga masa depan generasi mendatang.

    Maluku, Sentralmedia.id  – Pendidikan sejak lama diakui sebagai fondasi utama kemajuan sebuah bangsa. Negara-negara maju membuktikan bahwa investasi terbesar mereka bukan hanya pada sumber daya alam atau kekuatan militer, melainkan pada kualitas pendidikan dan penghormatan terhadap para pendidik. Namun, sejarah juga mencatat bahwa cara paling efektif untuk melemahkan bahkan menghancurkan sebuah negara adalah dengan menghancurkan sistem pendidikannya dan merendahkan martabat para guru.

    Ketika pendidikan dilemahkan, yang hancur bukan hanya ruang kelas, tetapi masa depan bangsa itu sendiri. Kurikulum yang tidak berpihak pada pengembangan nalar kritis, minimnya akses pendidikan yang merata, serta kebijakan yang tidak berorientasi pada mutu akan melahirkan generasi yang rapuh secara intelektual dan mudah dipengaruhi. Dalam kondisi seperti ini, bangsa kehilangan kemampuan berpikir mandiri, inovatif, dan berdaya saing.

    Lebih berbahaya lagi adalah ketika guru sebagai pilar utama pendidikan kehilangan martabat dan penghargaan. Guru yang hidup dalam ketidakpastian kesejahteraan, dibebani administrasi berlebihan, serta diposisikan sebagai pihak yang selalu disalahkan, akan sulit menjalankan perannya secara optimal. Padahal, di tangan gurulah nilai-nilai kejujuran, integritas, kebangsaan, dan kemanusiaan ditanamkan sejak dini.

    Pandangan tersebut turut disuarakan oleh Burhan Lesbasa, mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Pattimura. Menurutnya, merendahkan profesi guru sama halnya dengan meruntuhkan masa depan pendidikan nasional. “Sebagai mahasiswa keguruan, kami dipersiapkan untuk menjadi pendidik yang mencerdaskan dan membangun karakter bangsa. Namun ketika guru tidak dihargai dan terus dipinggirkan, kami merasa seolah profesi ini tidak lagi dimuliakan. Jika martabat guru direndahkan, maka yang hancur bukan hanya pendidikan hari ini, tetapi juga masa depan generasi mendatang,” ujar Burhan.

    Merendahkan martabat guru berarti memutus mata rantai peradaban. Guru yang tidak dihormati akan kehilangan wibawa di hadapan peserta didik dan masyarakat. Akibatnya, proses pendidikan berubah menjadi formalitas tanpa makna, dan sekolah kehilangan fungsinya sebagai ruang pembentukan karakter, etika, dan akal budi.

    Baca Juga:  Guru Honorer, Pahlawan di Balik Keterbatasan

    Dampak kehancuran pendidikan memang tidak selalu terlihat secara instan. Ia bekerja secara perlahan namun pasti meningkatnya ketimpangan sosial, melemahnya daya pikir kritis, mudahnya penyebaran hoaks, serta rapuhnya persatuan nasional. Bangsa yang pendidikannya runtuh akan kehilangan arah dan mudah dikendalikan oleh kepentingan sempit.

    Oleh karena itu, menjaga kualitas pendidikan dan meninggikan martabat guru bukan sekadar isu sektoral, melainkan persoalan strategis kebangsaan. Negara yang ingin bertahan dan maju harus menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama serta memuliakan guru sebagai penjaga peradaban.

    Menghancurkan pendidikan dan merendahkan guru mungkin tidak menimbulkan suara ledakan atau kerusakan fisik, tetapi dampaknya jauh lebih dahsyat hancurnya masa depan sebuah bangsa dari dalam.

    Penulis : Burhan Lesbasa

    Editor : Tim Redaksi Sentralmedia.id

     

    SHARE:

    BERITA TERKAIT

    REKOMENDASI

    BERITA TERBARU

    ARTIKEL POPULER