Ende,  Sentralmedia.id – Banjir kembali menghadang aktivitas masyarakat dan pelajar di jalur Pantai Utara (Pantura) Mbay–Maumere, tepatnya di wilayah Dusun Bolenggo, Desa Magekapa, Kecamatan Maukaro, Kabupaten Ende. Kondisi ini menyebabkan putusnya jalur utama yang menghubungkan Dusun Bolenggo dan Desa Kebirangga, sekaligus melumpuhkan aktivitas sosial, ekonomi, dan pendidikan warga, Minggu (1/2/2026).
Ironisnya, persoalan ini bukan kejadian baru. Banjir yang menutup badan jalan tersebut telah berlangsung berulang kali setiap musim hujan sejak tahun 2016. Namun hingga kini, belum terlihat adanya solusi konkret maupun penanganan serius dari pemerintah, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi.
Tokoh masyarakat setempat, Venan Woso, menegaskan bahwa masyarakat sudah terlalu lama hidup dalam kondisi terisolasi akibat pembiaran tersebut. “Ini bukan bencana tiba-tiba. Setiap musim hujan, jalur ini pasti terputus. Sudah hampir sembilan tahun kami mengalami hal yang sama, tapi pemerintah seolah menutup mata,” tegas Venan.
Jalur Pantura Mbay–Maumere merupakan akses vital yang digunakan warga untuk berbagai kepentingan, mulai dari aktivitas ekonomi, distribusi hasil pertanian, hingga akses pendidikan dan kesehatan. Saat banjir terjadi, kendaraan tidak dapat melintas, memaksa warga menghentikan perjalanan atau mengambil risiko menerobos arus air yang deras dan berbahaya.
Dampak paling serius dirasakan oleh para pelajar. Banyak siswa terpaksa tidak bersekolah karena orang tua khawatir akan keselamatan anak-anak mereka jika harus melewati banjir. Sebagian lainnya harus berjalan kaki memutar dengan jarak yang jauh dan kondisi medan yang tidak aman.
“Anak-anak sekolah menjadi korban paling nyata. Hak mereka untuk mendapatkan pendidikan terganggu hanya karena negara gagal menyediakan akses jalan yang layak,” kata Venan dengan nada kecewa.
Masyarakat menilai, berlarut-larutnya masalah ini mencerminkan lemahnya keberpihakan pemerintah terhadap warga di wilayah pinggiran. Padahal, solusi seperti pembangunan drainase yang memadai, peninggian badan jalan, atau pembangunan jembatan di titik rawan banjir dinilai bukan hal yang mustahil jika ada kemauan politik.
“Kami tidak meminta janji atau kunjungan seremonial. Kami butuh tindakan nyata agar setiap musim hujan kami tidak terus menjadi korban,” tambah Venan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah daerah Kabupaten Ende terkait rencana penanganan banjir di jalur Pantura Mbay–Maumere, khususnya di Dusun Bolenggo. Sementara itu, masyarakat dan pelajar kembali dipaksa menerima kenyataan pahit terisolasi di negeri sendiri akibat infrastruktur yang dibiarkan rusak bertahun-tahun.
Pewarta : Anjas
Editor : Tim Sentralmedia.id

