spot_img

RSUDZA Banda Aceh Bantah Pemotongan Jaspel, Direktur Sebut Penyesuaian Akibat Pendapatan Turun

Direktur RSUDZA Banda Aceh menegaskan tidak ada pemotongan sepihak jasa pelayanan tenaga kesehatan. Penyesuaian nominal jaspel terjadi karena pendapatan rumah sakit menurun dalam tiga tahun terakhir

BANDA ACEH-Selasa(28/7/2026), Sentral Media – Rumor mengenai adanya pemotongan sepihak jasa pelayanan (jaspel) bagi tenaga kesehatan (nakes) dan pegawai di RSUD dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh akhirnya mendapat penjelasan resmi dari pihak manajemen rumah sakit.

Direktur RSUDZA, Dr. Muhazar, S.KM., M.Kes., menegaskan bahwa manajemen rumah sakit tidak melakukan pemotongan hak pegawai maupun tenaga kesehatan. Menurutnya, perubahan nominal jaspel merupakan bentuk penyesuaian otomatis yang mengikuti kondisi keuangan rumah sakit.

“Jaspel itu bukan gaji pokok. Besarnya bersifat fluktuatif karena dasar perhitungannya adalah pendapatan rumah sakit. Ada formula resmi yang kami gunakan. Jadi, jika pendapatan turun, nominal jaspel ikut menyesuaikan. Sebaliknya, jika pendapatan meningkat, jaspel juga akan meningkat,” jelas Dr. Muhazar saat dikonfirmasi wartawan ViralTimes, Senin (27/7/2026).

Ia menegaskan bahwa penggunaan istilah “pemotongan jaspel” tidak tepat karena kebijakan tersebut telah mengikuti aturan dan formula yang berlaku dalam pengelolaan jasa pelayanan di rumah sakit.

Dr. Muhazar memaparkan bahwa pendapatan RSUDZA mengalami penurunan dalam tiga tahun terakhir. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi besaran jasa pelayanan yang diterima tenaga kesehatan dan pegawai.

Berdasarkan data internal RSUDZA, pendapatan rumah sakit pada tahun 2024 tercatat sebesar Rp52 miliar. Selanjutnya, angka tersebut menurun menjadi Rp50 miliar pada tahun 2025. Pada tahun 2026, pendapatan kembali mengalami penurunan hingga mencapai Rp45 miliar.

Dengan demikian, dalam kurun waktu dua tahun terakhir, pendapatan rumah sakit telah berkurang sebesar Rp7 miliar.

“Penyesuaian nominal jaspel merupakan konsekuensi dari penurunan pendapatan rumah sakit. Semua perhitungan sudah mengikuti formula yang berlaku dan mempertimbangkan kapasitas keuangan RSUDZA,” ujar Muhazar.

RSUDZA Tetap Prioritaskan Pelayanan Pasien

Meskipun menghadapi penurunan pendapatan, pihak RSUDZA memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap menjadi prioritas utama. Manajemen rumah sakit berkomitmen menjaga mutu pelayanan kesehatan bagi seluruh pasien.

Baca Juga:  Aulia Rahman Raih Penghargaan Pemimpin Muda Serambi Award 2026

Muhazar juga memahami adanya kekhawatiran dari tenaga kesehatan dan pegawai terkait penyesuaian jasa pelayanan tersebut. Namun, ia menegaskan bahwa kebijakan ini bertujuan menjaga keberlangsungan operasional rumah sakit dalam jangka panjang.

“Kami tetap berkomitmen menjaga mutu layanan kesehatan. Penyesuaian ini merupakan langkah yang perlu kami ambil agar kondisi keuangan rumah sakit tetap sehat dan pelayanan kepada masyarakat dapat terus berjalan secara optimal,” tegasnya.

Manajemen Buka Ruang Dialog dengan Tenaga Kesehatan

Selain itu, manajemen RSUDZA terus membuka ruang dialog dengan perwakilan tenaga kesehatan dan pegawai. Langkah ini dilakukan untuk memberikan penjelasan secara transparan terkait kebijakan penyesuaian jasa pelayanan.

Pihak rumah sakit berharap komunikasi yang baik dapat mencegah munculnya kesalahpahaman di lingkungan internal maupun di tengah masyarakat.

Dengan adanya penjelasan resmi dari Direktur RSUDZA, masyarakat dan tenaga kesehatan diharapkan dapat memahami bahwa kebijakan tersebut merupakan penyesuaian yang mengikuti kondisi keuangan rumah sakit, bukan pemotongan hak secara sepihak.

Narasumber dan Penulis : Rian

Redaksi/Editor : Sentralmedia.id

 

SHARE:

Advertisement

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

spot_img

BERITA TERBARU

spot_img
spot_img

ARTIKEL POPULER